Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Banyak Gerai Tutup, Bagaimana Prospek Bisnis Makanan dan Minuman di 2023?

Aprindo memproyeksikan bisnis makanan dan minuman atau food and beverage bakal cemerlang di 2023. Ini alasannya.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 08 Februari 2023  |  20:55 WIB
Banyak Gerai Tutup, Bagaimana Prospek Bisnis Makanan dan Minuman di 2023?
Warunk Upnormal / Instagram warunk_upnormal.

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memproyeksikan bisnis makanan dan minuman atau food and beverage (f&b) bakal cemerlang pada tahun ini.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Aprindo, Roy N. Mandey. Dia mengatakan pencabutan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dapat menjadi angin segar bagi pelaku bisnis food & beverage.

“Kemarin dengan pertumbuhan ekonomi yang dicatat 5,31 persen itu kan kontribusi rumah tangga 51,6 persen. Hampir 37,8 persen adalah dari F&B, artinya ketika kita sudah masuk ke masa PPKM dicabut dan menuju endemi, F&B akan cemerlang,” kata Roy kepada awak media di Jakarta Barat, Rabu (8/2/2023).

Dia bahkan menyebut, kontribusi F&B di Indeks Penjualan Riil atau IPR bisa naik mencapai 40 persen di 2023 dibandingkan sebelumnya yang tercatat di kisaran 37 persen hingga 38 persen. Apalagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mencabut PPKM pada akhir 2022 lalu.

Selain itu, dia menuturkan, tahun politik yang bakal berlangsung mulai 2023 bisa turut mendorong kinerja positif bisnis F&B. Pasalnya, tahun politik biasanya digunakan untuk menggaet simpati masyarakat termasuk melalui makanan dan minuman, memberikan sembako dan lainnya.

“Kalau tahun lalu sekitar 37 sampai 38 persen, tahun ini saya perkirakan bisa 40 persen. Karena apa? ada tahun politik. Tahun politik, namanya partai, kita lihat pemilu 2019, mereka akan melayani konstituennya dengan memberi sembako, makanan dan minuman, itu wajar saja untuk mencari simpati masyarakat,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, bisnis F&B tengah dilanda awan mendung. Beberapa perusahaan memilih untuk menutup sebagian gerainya termasuk Warunk Upnormal, Wendy’s, Kopi Kenangan, hingga Fore. 

Roy menyebut, fenomena tutupnya sejumlah gerai merupakan suatu keniscayaan ketika suatu bisnis tidak adaptif dan resilience. Agar tak ditinggalkan oleh masyarakat, Roy menilai perusahaan-perusahaan tersebut harus mengubah model bisnisnya saat ini.

“Jadi gimana agar nggak ditinggalkan? ya mereka harus merubah setiap saat model bisnisnya, menunya, jangan kopi melulu mungkin. Sekali-kali french fries di Kopi Kenangan, jadi kayak begitu,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri makanan dan minuman aprindo ritel
Editor : Fitri Sartina Dewi

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top