Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI: 2 Sektor Ini Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi di 2023

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 sebesar 5,31 persen.
Suasana deretan gedung bertingkat dan perumahan padat penduduk di Jakarta, Senin (4/7/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Suasana deretan gedung bertingkat dan perumahan padat penduduk di Jakarta, Senin (4/7/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan perekonomian dalam negeri akan tetap tumbuh solid pada kisaran 4,5 hingga 5,3 persen pada 2023.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022, yaitu tercatat sebesar 5,31 persen.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyampaikan bahwa capaian tersebut jauh meningkat dari capaian tahun sebelumnya sebesar 3,70 persen, di tengah tren perlambatan ekonomi global.

Erwin mengatakan, perekonomian Indonesia pada 2023 diperkirakan tetap kuat yang didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi.

“Ke depan, pertumbuhan ekonomi 2023 diperkirakan tetap kuat pada kisaran 4,5-5,3 persen, didorong oleh peningkatan permintaan domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun investasi,” katanya dalam keterangan resmi yang dikutip Bisnis, Selasa (7/2/2023).

Perkiraan tersebut, kata Erwin sejalan dengan naiknya mobilitas masyarakat pasca penghapusan kebijakan PPKM, membaiknya prospek bisnis, meningkatnya aliran masuk Penanaman Modal Asing (PMA), serta berlanjutnya penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN).

Adapun, pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat 2022 ditopang oleh hampir seluruh komponen PDB dari sisi pengeluaran. 

Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 4,48 persen sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, termasuk aktivitas perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan tahun baru, serta berlanjutnya penyaluran bantuan sosial. 

Ekspor pada 2022 tercatat tetap tumbuh tinggi sebesar 14,93 persen, didorong oleh permintaan mitra dagang utama yang masih kuat. 

Sementara itu, pertumbuhan investasi secara keseluruhan sedikit tertahan pada 3,33 persen disebabkan oleh investasi bangunan yang masih rendah. 

Di sisi lain, konsumsi Pemerintah terkontraksi sebesar 4,77 persen, dipengaruhi oleh penurunan belanja barang untuk Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) seiring dengan kondisi pandemi yang terus membaik.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper