Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Industri Mamin Dihantui Gerakan Anti-Makanan Olahan

Gerakan anti ultraprocess food menjadi ancaman baru bagi para pelaku industri pangan olahan.
Gerai  Alfamart/JIBI-Rachman. Industri Mamin Dihantui Gerakan Anti-Makanan Olahan
Gerai Alfamart/JIBI-Rachman. Industri Mamin Dihantui Gerakan Anti-Makanan Olahan

Bisnis.com, JAKARTA – Para pelaku industri makanan dan minuman (mamin) mengaku dihadapkan oleh tantangan global yang datang dari gerakan anti ultra-processed food.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman mengatakan, gerakan tersebut saat ini mulai masif dilakukan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Adhi menyebutkan, gerakan tersebut menganggap pangan olahan tidak baik untuk kesehatan. Sekadar informasi, ultra-processed food merupakan salah satu kategori Berdasarkan pengkategorian kelompok makanan NOVA.

Kategori makanan di kelompok merupakan makanan yang diolah dalam skala industri dan menggunakan bahan tambahan seperti gula, minyak, lemak, garam, antioksidan, stabilizer, dan pengawet.

Dari gerakan ini, menurut Adhi, kemudian muncul kampanye untuk mengonsumsi makanan mentah dan makanan yang tidak melalui proses pengolahan.

“Jadi pangan olahan tuh dianggap tidak bagus buat kesehatan, gerakan-gerakan ini sudah mulai didengungkan di berbagai negara, sehingga ada yang mengkampanyekan harus makan mentah, makan yang tidak diolah dan lain sebagainya,” ungkap Adhi kepada Bisnis pada Jumat (27/1/2023).

Adhi menyebut, gerakan ini sudah terdengar di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa, yang dilakukan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM). Sementara, di Indonesia, dilakukan oleh beberapa komunitas.

Padahal, kata Adhi, panganan olahan ini memiliki peran yang cukup baik di Indonesia. Berdasarkan dta Gapmmi, sepanjang Januari hingga November 2022 lalu, nilai ekspor pangan olahan mencapai US$10 miliar.

“[nilai ekspor] pangan olahan di luar sawit, kalau termasuk sawit kan ekspor kita cukup tinggi ya, hampir US$40 miliar. Kalau diluar sawit, 2022 sampai November itu sudah menembus US$10 miliar, ” jelas Adhi.

Sementara, kata Adhi pada tahun 2021 lalu, nilai ekspor pangan olahan diluar olahan sawit sebesar US$9,3 miliar.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebelumnya merilis, nilai ekspor industri mamin pada Januari hingga September 2022 lalu mencapai US$36 miliar jika dijumlahkan dengan minyak kelapa sawit. Di luar itu, industri mamin telah menghasilkan nilai ekspor pada periode yang sama sebesar US$12,77 miliar.

Lebih lanjut Adhi menjelaskan, pangan olahan juga memiliki masa simpan yang lebih lama, food loss dan food waste yang lebih kecil sehingga membantu distribusi makanan hingga ke pelosok-pelosok negeri. 

“Sebetulnya pangan olahan sangat dibutuhkan karena bisa membantu ketersediaan, bisa membantu distribusi sampai ke pelosok-pelosok, masa simpan lebih panjang sehingga food loss dan food waste Itu juga lebih kecil, bisa membantu peningkatan nutrisi di pedesaan di masyarakat,” jelas Adhi.

Kini, Adhi mengaku pihaknya akan memberikan penjelasan kepada berbagai pihak, termasuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak terpancing isu anti ultra-processed food tersebut.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Widya Islamiati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper