Outlook 2023, Nilai Ekspor Oleokimia Diproyeksi Tembus Rp99,6 Triliun

Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) memproyeksikan volume ekspor oleokimia akan mencapai 4,8 juta - 5,1 juta ton pada 2023.
Oleokimia produksi Indonesia diyakini terus bertumbuh./Istimewa
Oleokimia produksi Indonesia diyakini terus bertumbuh./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) memproyeksikan volume ekspor oleokimia akan mencapai 4,8 juta - 5,1 juta ton pada 2023, dengan estimasi nilai ekspor berkisar U$6,2 miliar – US$6,4 miliar atau sekitar Rp96,5 triliun - Rp99,6 triliun (asumsi kurs Rp15.572 per US$).

Sementara itu, kebutuhan dalam negeri diperkirakan mencapai 1,8 juta - 2,2 juta ton untuk tahun ini. 

Ketua Apolin Rapolo Hutabarat mengatakan, perkembangan industri oleokimia menunjukkan perkembangan positif dalam 3 tahun terakhir. Dia menjelaskan, nilai ekspor produk oleokimia pada 2022 diperkirakan mencapai US$5,96 miliar. Ada kenaikan dibandingkan 2021 yang sebesar US$4,41 miliar dan 2020 sebesar US$2,03 miliar.

“Perkembangan industri oleokimia lndonesia merujuk kepada kinerja ekspor produk-oleochemical selama 3 tahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan yang positif. Faktor penopangnya adalah semua sektor industri yang menggunakan oleokimia meningkat permintaannya termasuk industri sanitasi, kosmetik, farmasi, pariwisata, konstruksi [baja] dan transportasi [ban],” ujar Rapolo melalui siaran pers, Senin (2/1/2023).

Dia menyampaikan, pada 2019, volume ekspor produk turunan minyak kelapa sawit itu sebesar 3,18 juta ton dan selanjutnya meningkat menjadi 3,87 juta ton pada 2020. Memasuki 2021, volume ekspor naik menjadi 4,19 juta ton dan diperkirakan pada 2022 sebesar 4,16 juta ton.

Menurutnya, pertumbuhan industri oleokimia ini berkat dukungan pemerintah Indonesia melalui kebijakan gas murah sebesar US$6/MMBTU. Adapula dukungan dari kebijakan tax holiday dan tax allowance. Namun, pelaku usaha berharap adanya dukungan dari sistem logistik nasional karena sampai sekarang ini belum ada kejelasan dari aspek regulasi.

“Pelaku usaha masih menunggu UU Sistem Logistik Nasional yang belum digagas oleh pemerintah maupun legislatif sebagai hak inisiatifnya,” ujar Rapolo.

Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa secara nasional kapasitas olah industri oleokimia lndonesia sepanjang 2022 ini berkisar 60 persen-65 persen dan ini perlu ditingkatkan lagi. Sampai di penghujung 2022 ini, belum ada rencana peningkatan kapasitas. Dengan kapasitas saat ini, menurutnya, sudah cukup besar untuk memasok produk oleokimia ke berbagai negara tujuan yang digunakan oleh berbagai jenis industri.

Salah satu persoalan dalam peningkatan kapasitas adalah tingginya bunga bank di lndonesia sehingga sumber pembiayaan untuk investasi baru maupun untuk perluasan industri oleokimia di Indonesia menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan negara produsen lainnya, seperti China, Malaysia, dan Uni Eropa.

“Untuk menambah ragam produk baru, pemerintah perlu menambah dana riset di perguruan tinggi, BRIN agar riset untuk menghasilkan produk baru dan produk hilir lanjut dapat segera diwujudkan,” jelas Rapolo yang juga menjabat sebagai Corporate Affair PT Musim Mas itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper