Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Belum Selesai PMK, Nestle Singgung Penyakit Lumpy Skin Disease

Nestlé Indonesia buka suara soal penyakit ternak yang berbahaya, yaitu Lumpy Skin Disease (LSD).
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 23 Desember 2022  |  01:00 WIB
Belum Selesai PMK, Nestle Singgung Penyakit Lumpy Skin Disease
Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung memasangkan eartag atau tanda pengenal pada telinga hewan ternak sapi yang telah disuntik vaksin untuk pencegahan penyakit mulut dan kuku (PMK) di kandang peternakan sapi di kawasan Babakan Ciparay, Bandung, Jawa Barat, Senin (27/6/2022). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Belum selesai wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang saat ini masih menyerang ternak di 16 provinsi, PT Nestlé Indonesia justru mengkhawatirkan penyakir baru yang muncul, yaitu Lumpy Skin Disease (LSD).

Direktur Corporate Affairs Nestlé Indonesia Sufintri Rahayu menyampaikan saat ini kasus PMK memang sudah menurun dan cukup terkendali, namun muncul LSD yang dikhawatirkan akan semakin menurunkan produktivitas susu dari sapi perah.

“Kasus memang menurun, ada penyakit baru LSD yang juga berdampak pada penurunan produktivitas susu,” ujarnya di Kantor Pusat Nestlé Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (22/12/2022).

Sebelumnya, adanya PMK telah menekan produksi susu untuk pasokan Nestle hingga 30 persen. Saat ini pun tengah dalam masa pemulihan, karena sapi perah yang telah terpapar PMK dan LSD tidak dapat menghasilkan jumlah susu yang sama sebelum terkena penyakit tersebut.

Saat ini, kata Sufintri, produsen susu Bear Brand tersebut telah melakukan pendampingan terhadap peternak di Jawa Timur, di mana pabrik Nestle berada, baik untuk PMK dan LSD.

“Kami sedang membantu para peternak untuk menjalani pasca LSD juga, bersama dengan local government, dinas peternakan, kantor gubernur, kami benar-benar bekerja sama di sana. Memang pemerintah pusat perlu membuat rencana untuk post LSD dan PMK,” tambahnya.

Nestle pun telah menggelontorkan Rp1,2 miliar kepada para peternak untuk penanganan dan pendampingan PMK.

Secara terpisah, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan PMK Wiku Adisasmito menjelaskan bahwa memang saat ini kasus PMK cenderung menurun, namun adanya LSD diketahui lebih berbahaya dari PMK.

Wiku menyampaikan bila PMK hanya menular melalui angin dan perantara orang, LSD dapat menular melalui vektor seperti nyamuk dan lalat penghisap darah.

“Penularan LSD bisa seperti itu, dan juga oleh vektor, ditularkan melalui nyamuk, lalat penghisap darah, dan caplak, itu kasus pertama Februari 2022 di Riau,” katanya, Selasa (20/12/2022).

Lebih lanjut, Wiku memaparkan bahwa pada Agustus 2022, LSD yang disebabkan oleh virus LSD, sudah sampai Jawa Tengah, dan pada November sudah masuk di Jawa Timur. Wajar bila para pengusaha susu was-was terhadap penyakit tersebut.

Menurut Wiku, saat ini pemerintah melalui Kementerian Koordinator bidang Maritim dan Investasi telah memerintahkan Satgas PMK untuk terjun menangani LSD.

“Perintah dari Menko Marves kami diperintah untuk menangani LSD juga, tetapi penangananya belum seintensif PMK. Pada 2023 ini harus menjadi atensi publik,” tutup Wiku.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nestle Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) peternakan sapi
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top