Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Industri Alas Kaki dan Tekstil Semaput, Pemerintah Diminta Berikan Diskon Listrik Hingga Tutup Keran Impor

Pemerintah didorong untuk mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan industri garmen dan alas kaki yang sedang marak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). 
Sejumlah karyawan tengah memproduksi pakaian jadi di salah satu pabrik produsen dan eksportir garmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022). Bisnis/Rachman
Sejumlah karyawan tengah memproduksi pakaian jadi di salah satu pabrik produsen dan eksportir garmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022). Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah didorong untuk mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan industri garmen dan alas kaki yang sedang semaput karena menurunnya penjualan dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Menurut Ekonom Celios Bhima Yudhistira, pemerintah setidaknya melakukan 4 hal untuk menolong pabrik-pabrik di industri tersebut agar tetap bisa bertahan di tengah masa sulit ini. 

Pertama, mengurangi beban utilitas dengan memberikan diskon listrik di beban puncak sebesar 60 persen. Kedua, memberikan perpanjangan restrukturisasi kredit yang harusnya berakhir tahun ini menjadi hingga 2025.

"Ketiga, dan yang lebih penting adalah melakukan pembatasan impor untuk pakaian jadi demi mengamankan pasar dalam negeri yang menjadi tumpuan karena lesunya pasar ekspor," kata Bhima, Kamis (17/11/2022).

Kondisi di industri tekstil dan alas kaki sendiri memang sedang parah-parahnya. Selama periode Oktober - November 2022 saja, jumlah pengurangan tenaga kerja di industri produk tekstil (garmen) tercatat mengalami penambahan sebanyak 15.316 orang selama periode Oktober - November 2022.

Mengutip data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), total tenaga kerja pabrik garmen yang yang kehilangan pekerjaan sampai dengan awal November 2022 mencapai 79.316 orang dari 111 perusahaan. 

"Bahkan, sebanyak 16 perusahaan telah menutup operasi produksinya. Total pengurangan karyawan sebanyak 79.316 orang," kata Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani di Jakart belum lama ini. 

Seluruh pengurangan tenaga kerja di industri garmen tersebut terjadi di daerah Jawa Barat. 

Hariyadi menambahkan, order garmen mengalami penurunan untuk periode akhir 2022 hingga kuartal kedua tahun depan dengan kisaran 30-50 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. 

Kondisi tersebut, jelasnya, memaksa perusahaan anggota Apindo di sektor terkait untuk melakukan pengurangan produksi secara signifikan dan berimplikasi kepada pengurangan jam kerja hingga PHK.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa menambahkan angka sebenarnya dari pengurangan tenaga kerja di industri garmen di atas lebih dari 79.316 orang. 

"Angka yang disampaikan soal jumlah tenaga kerja yang dikurangi tersebut hanya berdasarkan informasi dari perusahaan yang melaporkan. Namun, banyak juga PHK yang terjadi tapi perusahaan tidak melaporkan ke asosiasi," jelasnya. 

Sekadar informasi, pengurangan tenaga kerja tidak hanya terjadi di industri garmen. Di sektor alas kaki, berdasarkan laporan dari 37 pabrik sepatu yang memiliki pekerja 337.192 orang kepada Asosiasi, terdapat 25.700 pekerja yang terkena PHK. 

PHK terjadi karena terjadinya penurunan permintaan sebesar 45 persen sejak Juli 2022 hingga Oktober 2022 sehingga produksi November - Desember 2022 mengalami penurunan hingga 51 persen. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Rahmad Fauzan
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper