Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Singgung Monopoli Pembangkit, Pertamina Ungkap Tantangan Kembangkan EBT

Dominasi tunggal pada pembangkitan listrik domestik dinilai menjadi faktor penghambat dari inisiatif pengembangan energi bersih.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 04 November 2022  |  07:45 WIB
Singgung Monopoli Pembangkit, Pertamina Ungkap Tantangan Kembangkan EBT
Ilustrasi petugas membersihkan PLTS atap. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — CEO Pertamina New & Renewable Energy (NRE) Dannif Danusaputro memandang masih terdapat sejumlah tantangan untuk menginisiasi pengembangan pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia saat ini.

Dannif menggarisbawahi monopoli pasar pada pembangkitan listrik domestik turut menjadi faktor penghambat dari inisiatif pengembangan energi bersih di dalam negeri belakangan ini.

“Di Indonesia masih banyak tantangan dari sektor pembangkit, masih banyak monopoli yang harus kita hadapi sama-sama, jadi kita harus bongkar mindset-mindset lama,” kata Dannif saat Launching Pertamina NRE, Kamis (3/11/2022).

Di sisi lain, Dannif mengatakan, persaingan untuk pengembangan pembangkit EBT bakal makin ketat dengan munculnya banyak perusahaan baru di pasar tersebut. Menurut dia, pasar EBT akan terlihat berbeda dari industri hulu migas konvensional yang relatif terpusat pada sejumlah perusahaan besar yang menguasai rantai pasok.

Dengan demikian, dia berharap, pengembangan EBT yang diemban Pertamina NRE dapat optimal dengan penyesuaian pada kondisi pasar yang sama sekali baru dari industri hulu migas.

“Bahwa kita ini ada pasar, bisnis akan datang ke kita tanpa melakukan banyak usaha, semua itu yang saya perlukan dari anak-anak muda untuk memiliki growth mindset for future of Pertamina,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan realisasi investasi pada sektor energi baru terbarukan dan konservasi energi baru mencapai US$0,67 miliar hingga Juni 2022. Torehan itu sekitar 16,9 persen dari target investasi yang dipatok mencapai US$3,97 miliar pada tahun ini.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana mengatakan, rendahnya torehan investasi itu disebabkan karena program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang belum dapat berjalan optimal.

Selain itu, Dadan mengatakan, dampak pandemi Covid-19 juga masih mengoreksi rencana investasi pada program pengembangan energi berkelanjutan tersebut.

“Program PLTS Atap yang belum bisa berjalan dengan baik, masih ada beberapa isu antara lain terkait besaran kapasitas PLTS Atap yang bisa dipasang, yang masih dicari titik temu-nya dengan PLN,” kata Dadan kepada Bisnis, Selasa (28/6/2022).

Berdasarkan data milik Kementerian ESDM per Juni 2022, capaian investasi sektor bioenergi yang terdiri atas pembangkit listrik tenaga bioenergi dan pabrik biodiesel sebesar sekitar US$36 juta atau 22,2 persen dari total target investasi yang dipatok US$162 juta.

Sementara itu, capaian investasi pembangkit listrik panas bumi berada di angka US$251 juta atau 26,5 persen dari keseluruhan target investasi yang diharapkan mencapai di angka US$947 juta.

Adapun, torehan investasi untuk pembangkit listrik aneka EBT yang terdiri atas PLTA, PLTM, PLTMH, PLTS atap dan PLTS sebesar sekitar US$379 juta atau 13,3 persen dari total target investasi di 2022 yang sebesar US$2,86 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina ebt energi hijau
Editor : Denis Riantiza Meilanova
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top