Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Tantangan di Balik Klaim Jokowi Indonesia Siap Hadapi Krisis Pangan

Tantangan terbesar bagi Indonesia dalam menghadapi krisis pangan bukan dari sisi pasokan, melainkan di harga pangan.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 16 Oktober 2022  |  22:20 WIB
Tantangan di Balik Klaim Jokowi Indonesia Siap Hadapi Krisis Pangan
Presiden Joko Widodo meninjau lahan yang akan dijadikan "Food Estate" atau lumbung pangan baru di Kapuas, Kalimantan Tengah, Kamis (9/7 - 2020). Pemerintah menyiapkan lumbung pangan nasional untuk mengantisipasi krisis pangan dunia. ANTARA FOTO / Hafidz Mubarak A
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Tantangan terbesar Indonesia menghadapi krisis pangan terletak pada harga. Guru Besar IPB University Bayu Krisnamurthi mengungkapkan meski Presiden Joko Widodo (Jokowi) klaim Indonesia relatif lebih siap menghadapi ancaman krisis pangan, nyatanya tantangan terbesar justru di harga pangan.

Bayu menyampaikan bila mengacu pada kategori kerawanan pangan atau food insecurity oleh Food and Agriculture Organization/FAO, Indonesia dapat dikatakan aman karena jumlah pangan masih tersedia.

“Menurut saya memang tidak melihat adanya krisis pangan [dalam arti "food insecurity" yang disepakati FAO] di Indonesia. Tidak ada insiden kelaparan akut dan pangan masih tersedia, yang terjadi adalah krisis harga pangan. Pangannya ada tetapi harganya mahal,” ujarnya, Minggu (16/10/2022).

Melihat Laporan Perkembangan Harga, Inflasi, dan Stok Indikatif Bahan Pokok Kementerian Perdagangan, mayoritas komoditas dalam kondisi aman dan di atas normal.

Sementara kondisi indeks harga pangan menurut FAO telah melonjak ke rekor tertinggi tahun ini, tepatnya pada Maret yang mencapai angka kisaran 160 poin. Untuk Indeks Harga Pangan FAO pada September rata-rata 136,3 poin, turun 1,1 persen dari Agustus. Meski begitu, harga pangan tetap 5,5 persen lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

FAO juga mencatat harga pupuk menjadi terlalu mahal bagi banyak petani dan jumlah orang yang menghadapi kerawanan pangan terus meningkat. Pada akhirnya yang paling terdampak adalah masyarakat miskin.

Untuk itu, Bayu mengingatkan kepada pemerintah untuk memberi perhatian lebih besar terhadap kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Baiknya lebih fokus pada kemampuan masyarakat untuk menghadapi harga pangan yang lebih tinggi.

Perhatian dalam hal ini bukan hanya terbatas pada bantuan sosial atau subsidi, melainkan lebih bersifat jangka panjang seperti pemantauan yang intensif termasuk dalam aspek asupan gizi, serta penyuluhan dan pemberdayaan terkait pola pangan.

“Dan juga perlu usaha sistematis dan serius mendata stok pangan, baik yang berbentuk tanaman/hewan hidup (pre harvest stock) karena situasi sulit akan berlangsung cukup lama [12 - 18 bulan]. Juga stok pasca panen (postharvest stok) yang ada di gudang, baik dalam bentuk barang setengah jadi maupun barang jadi,” lanjut Bayu.

Meski dari sisi ketahanan pangan peringkat Indonesia telah lebih baik dari tahun lalu (2021), namun masih belum mencapai tingkat seperti sebelum pandemi Covid-19 atau pada 2019.

Diberitakan sebelumnya, Jokowi mengklaim bahwa Indonesia sudah jauh-jauh hari melakukan sejumlah persiapan untuk menghadapi ancaman krisis pangan.

"Jauh-jauh hari sebelumnya, jalan menuju ketahanan pangan itu sudah kita persiapkan, salah satunya dengan membangun infrastruktur di bidang pertanian, dari bendungan, embung, hingga jaringan irigasi yang mendukung produksi pertanian nasional," tulis Jokowi di akun Instagramnya @jokowi, Minggu (16/10/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

krisis pangan Jokowi harga pangan ketahanan pangan stok pangan
Editor : Reni Lestari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top