Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Soal Pengadaan Kedelai Dalam Negeri, Mentan Sebut Masih Butuh Waktu

Pada tahun lalu, Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2.489.690 ton, sedangkan Kementerian Perdagangan mencatat kebutuhan per bulannya yaitu 200.000 ton.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 04 Oktober 2022  |  15:19 WIB
Soal Pengadaan Kedelai Dalam Negeri, Mentan Sebut Masih Butuh Waktu
Suasana aktivitas rumah produksi Depo Tahu Sumedang, Tajurhalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (31/7/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA– Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan rencana pengadaan kedelai dalam negeri membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bahkan membutuhkan beberapa tahun.

Syahrul menilai petani membutuhkan waktu untuk kembali menanam kedelai karena kebanyakan dari mereka telah terbiasa menanam jagung.

“Ini membutuhkan proses karena mereka sudah terbiasa tanam jagung yang lebih menguntungkan,” ujarnya usai Rakernas Kebijakan Satu Peta, Selasa (4/10/2022).

Komoditas kedelai yang menjadi bahan baku untuk makanan khas Indonesia, yakni tahu dan tempe, sempat ditinggalkan oleh para petani karena lebih memilih jagung dengan jumlah panen yang lebih banyak.

Sebagai gambaran, kata Syahrul, dalam ukuran satu hektare (ha), petani dapat memanen 6-7 juta ton jagung, sedangkan jika menanam kedelai hanya menghasilkan 1,5-2 juta ton.

Wajar bila petani banyak beralih dari menanam kedelai ke jagung yang memiliki harga sama di kisaran Rp5.000 per kg, sehingga satu hektare jagung lebih menguntungkan dari kedelai.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2021 Indonesia melakukan impor kedelai sebanyak 2.489.690 ton, sedangkan Kementerian Perdagangan mencatat kebutuhan per bulannya yaitu 200.000 ton.

Dia mengatakan bahwa saat ini baru tersedia lahan tanam untuk kedelai di kisaran 50.000 hingga 100.000 ha, sementara pihaknya menargetkan capaian luas lahan hingga 600.000 hektare.

Dari sisi ketersediaan lahan, Syahrul menyebut bahwa area tanam Indonesia masih cukup besar terutama di Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Hal yang harus dilakukan, menurut Syahrul, yaitu mencegah tindakan alih fungsi lahan menjadi perumahan maupun industri yang akan berdampak pada jumlah produksi pangan Indonesia.

“Orang yang paling gape tanam itu Orang Jawa, tetapi lahan di Jawa terbatas, kami berharap dapat ditanam di wilayah Timur atau Barat,” jelasnya.

Saat ini pun Kementan telah mengembangkan berbagai varietas tanaman, bukna hanya kedelai, yang dapat ditanam di wilayah ekstrim seperti pantai maupun rawa.

"Ada varietas yang bisa kepada pantai, ada varietas di rawa, teknologi sudah jago, tidak bisa 1-2 bulan selesai, mingkin 1-2 tahun bisa jalan, ada faktor manusia dan tanah," katanya. 

Untuk menarik minat para petani, pada Rapat Terbatas Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama para menteri meminta untuk menambah lahan kedelai dan menetapkan harga pembelian pemerintah dari petani kedelai.

“Presiden buat kebijakan tanam kedelai, pemerintah akan beli Rp10.00 [per kg],” lanjutnya.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekon) Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Presiden Jokowi menekankan penetapan harga beli kedelai diperlukan agar petani tidak dirugikan.

“Presiden ingin agar kedelai itu tidak 100 persen tergantung pada impor. Salah satu arahan beliau adalah harganya dibuat agar petani tidak dirugikan. Jadi untuk mencapai harga itu nanti ada penugasan daripada BUMN agar petani bisa memproduksi,” ujar Airlangga.

Terkait pengembangan area tanam kedelai, Airlangga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp400 miliar.

“Langkah berikut yang sudah disiapkan oleh anggaran pemerintah itu untuk perluasan ke 300.000 hektare, anggarannya sekitar Rp400 miliar. Dan tahun depan akan ditingkatkan dari 300.000 menjadi 600.000 hektare,” ujar Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top