Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Bayangan Inflasi Tinggi dan Badai Baru Pusat Belanja

Bayangan inflasi ini menjadi salah satu berita pilihan Bisnisindonesia.id edisi Senin (3/10/2022).
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 03 Oktober 2022  |  08:30 WIB
Top 5 News Bisnisindonesia.id: Bayangan Inflasi Tinggi dan Badai Baru Pusat Belanja
Aktivitas pengunjung di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Minggu (30/1/2022). Pemerintah Pusat meningkatkan kapasitas mal menjadi 60 persen saat PPKM dinaikkan menjadi level tiga, 8-14 Februari 2022. - Antara
Bagikan

Bisnis, JAKARTA - Kenaikan harga BBM diprediksi akan menambah tingkat inflasi sebesar 1,8 hingga 1,9 persen. Laju inflasi, terutama inflasi inti, diyakini akan kembali ke level 2 hingga 4 persen pada kuartal ketiga 2022. 

Berdasarkan data terakhir, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2022 tumbuh sebesar 5,4 persen secara tahunan. Presiden Jokowi memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2022 berkisar 5,4—6 persen. 

Bayangan inflasi ini menjadi salah satu berita pilihan Bisnisindonesia.id edisi Senin (3/10/2022). Selain itu, sejumlah ulasan komprehensif lainnya turut dirangkum dalam Top 5 News. 

1. Waspadai Inflasi Tinggi Dampak Putaran Kedua Kenaikan Harga BBM

Presiden optimistis Indonesia dari sisi pemulihan ekonomi masih relatif kuat, meskipun ekonomi global di ambang resesi. Pertumbuhan ekonomi kuartal III/2022 mencapai 5,4 persen hingga 6 persen. Angka ini naik dibandingkan dengan kuartal kedua yakni 5,44 persen. 

"Saya juga punya kalkulator sendiri Bu Menkeu punya kalkulator sendiri Pak Menko Perekonomian juga punya kalkulator sendiri, perkiraan saya ekonomi akan tumbuh di kuartal III/2022 ini 5,4—6 persen," kata Jokowi.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI Wahyu Agung Nugroho menilai dampak putaran kedua dari kenaikan harga BBM diperkirakan masih berlanjut hingga 2 - 3 bulan ke depan. Hal itu akan mendorong kenaikan inflasi inti.  

Laju inflasi, terutama inflasi inti, diyakini akan kembali ke level 2 hingga 4 persen pada kuartal ketiga 2022. Kendati demikian, ekonomi pada kuartal III/2022 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari kuartal sebelumnya, terutama didorong oleh membaiknya konsumsi domestik. 

2. Pusat Perbelanjaan Bersiap Hadapi Badai Baru Pasca Pandemi

Setelah mulai mengalami pemulihan akibat pembatasan saat pandemi Covid-19, pusat perbelanjaan atau mal harus menghadapi tekanan daya beli akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM)

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan naiknya harga BBM berdampak pada tekanan daya beli khususnya pada kelas menengah bawah. 

Menurutnya, dampak penaikan BBM tak akan berlangsung lama terhadap konsumsi masyarakat atau paling lama 2 hingga 3 bulan ke depan. Adapun penurunan kunjungan terhadap pusat perbelanjaan sekitar 30 persen. 

Saat ini, kondisi pusat perbelanjaan tengah dalam kondisi low season. Namun pengelola mal sudah terbiasa selama 3 tahun menghadapi krisis sejak pandemi Covid-19. 

Terlebih dengan pandemi yang terkendali, berdampak positif terhadap kunjungan pusat perbelanjaan. Adapun saat ini pusat perbelanjaan telah beroperasi 12 jam sehingga sebagian besar tingkat kunjungan pusat perbelanjaan telah mencapai 100 persen. Di Jabodetabek sendiri tingkat kunjungan rerata telah mencapai 90 persen.

3, Tiga Pekan BBM Naik, Persepsi Negatif Masyarakat Mulai Turun

Langkah pemerintah menaikkan harga BBM pada awal September sempat menimbulkan respons negatif masyarakat. Namun, setelah tiga pekan berjalan, sentimen dari masyarakat dinilai telah menurun. 

Secara umum, persepsi masyarakat terhadap perekonomian berada di zona negatif. Hal itu terjadi setelah pemerintahan Presiden Jokowi memutuskan untuk menaikkan harga BBM pada 3 September 2022. 

Keputusan menaikkan harga BBM selain sempat diwarnai kabar yang simpang siur juga memicu aksi unjuk rasa. Di antaranya, unjuk rasa kaum buruh yang mengkhawatirkan daya beli mereka anjlok sebagai dampak kenaikan harga bakar.

Pun begitu, pemerintah menyiapkan bantalan sosial mulai dari bantuan subsidi upah, bantuan langsung tunai, hingga bantuan sosial melalui pemerintah daerah untuk mensubsidi biaya transportasi publik.

4. Infrastruktur Jalan Tol Mengerek Penjualan dan Harga Residensial

Masifnya pembangunan infrastruktur yang tengah digencarkan oleh pemerintah turut serta berdampak pada sektor properti di sekitarnya. Perkembangan infrastruktur menjadi faktor umum untuk meningkatnya suatu kawasan. 

Pemerintah yang membangun banyak ruas jalan tol juga berdampak langsung pada penjualan dan tentu juga kenaikan harga properti di sekitarnya. 

Namun demikian, ada banyak faktor yang bisa membuat harga properti mengalami kenaikan dan bukan serta merta karena pasti akan naik dengan adanya infrastruktur. Harga properti akan ditentukan salah satunya oleh perkembangan kawasan sekitar maupun potensi pengembangan ke depannya. 

Infrastruktur merupakan salah satu hal yang bisa meningkatkan harga properti baik infrastruktur jalan maupun sarana transportasi publik sehingga bisa memudahkan aksesibilitas kawasannya.

Dalam laporan tren pasar properti semester 1 tahun 2022 yang dikeluarkan Lamudi.co.id, pembangunan infrastruktur oleh pemerintah berpengaruh pada tumbuhnya pusat perekonomian baru di luar Jakarta. 

Pada semester I tahun 2022 tercatat bahwa Jawa Barat, Jawa Timur dan Banten menempati peringkat tiga besar dalam angka minat pencarian properti di dalam platform Lamudi.co.id. 

Hal ini dapat dilihat dari tren pertumbuhan positif ke tiga provinsi dalam periode Januari-Mei 2022 dengan Jawa Barat yang memiliki rata-rata pertumbuhan 5 persen, Jawa Timur dengan 3,8 persen dan Banten dengan 6,5 persen.

5. Kejar Target Indika Energy (INDY) di Bisnis Non Batu Bara

Emiten produsen batu bara PT Indika Energy Tbk. (INDY) mengejar target kontribusi pendapatan 50:50 dari bisnis batu bara dan non batu bara pada 2025. Hal itu ditandai dengan penguatan belanja modal di bisnis non batu bara.

Emiten dengan kode saham INDY tersebut menyiapkan belanja modal antara US$150 juta atau Rp2,28 triliun hingga US$200 juta atau Rp3,04 triliun per tahun untuk pengembangan bisnis non batu bara ke depan dengan nilai tukar Rp15.200.

Head of Investor Relation Indika Energy Ricardo Silaen mengatakan bakal menaikan anggaran belanja modal perseroan dengan fokus pengembangan bisnis non batu bara. Dia menjelaskankan pada tiga hingga empat ke depan belanja modal antara US$150-US$200 juta per tahun.

“Sementara itu, strategi belanja modal di bisnis batu bara saat ini lebih fokus mempertahankan belanja modal. Tidak akan investasi baru akuisisi, kami akan lakukan pengembangan non batu bara,”jelasnya dalam diskusi virtual Indonesia Investment Education, Sabtu (1/10/2022).

Berdasarkan catatannya, belanja modal 2022 dianggarkan US$113 juta atau Rp1,71 triliun. Nilai tersebut, mayoritas dipakai untuk pengembangan bisnis non batu bara. Sementara belanja modal terbesar dipakai untuk bisnis tambang emas baru Awakmas dengan nilai US$32 juta.

Selanjutnya, bisnis solar panel lewat anak usaha EMITS, dianggarkan belanja modal US$21 juta. Baru bisnis batu bara sebagai belanja modal rutin di Kideco US$17 juta dan Indika Resources US$14 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi Pertumbuhan Ekonomi BBM pusat perbelanjaan jalan tol indika energy
Editor : Rayful Mudassir
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top