Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pembangunan Infrastruktur Hilir Gas Domestik Masih Terkendala

Berdasarkan catatan IGS, panjang infrastruktur pipa gas bumi hanya bertambah 3.321 kilometer sepanjang 2010 sampai dengan 2017.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 28 September 2022  |  14:28 WIB
Pembangunan Infrastruktur Hilir Gas Domestik Masih Terkendala
Pekerja menggarap pemasangan pipa gas untuk disalurkan ke permukiman. - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia Gas Society (IGS) menilai penambahan infrastruktur hilir gas bumi belum berlangsung optimal di tengah  pasokan gas yang berlebih atau oversupply pada tahun ini.

Chairman Indonesian Gas Society Aris Mulya Azof mengatakan situasi itu mengakibatkan konsumsi gas domestik relatif stagnan ketika pasokan di hulu justru berlimpah belakangan ini.

“Saat ini penambahan infrastruktur masih sangat minim kalau dilihat dalam program 2010-2017 penambahan sektor hilir ini sebesar 2.700 kilometer sedangkan open access 863 kilometer dan kepentingan sendiri 33 kilometer,” kata Aris saat Webinar Dunia Energi, Selasa (28/9/2022).

Menurut Aris, masalah geografis menjadi hambatan utama selain keekonomian proyek untuk pengembangan infrastruktur hilir gas domestik tersebut. Konsekuensinya jaringan pipa yang menghubungkan kawasan barat dan timur Indonesia belum terealisasi hingga saat ini.

Berdasarkan catatan IGS, panjang infrastruktur pipa gas bumi hanya bertambah 3.321 kilometer sepanjang 2010 sampai dengan 2017. Rencananya panjang infrastruktur pipa gas bumi itu diproyeksikan kembali bertambah sebesar 3.183 kilometer mengacu pada Rencana Induk Infrastruktur Gas Bumi Nasional periode 2017 sampai 2031.

Pertumbuhan terbesar jaringan pipa terdapat pada pipa dedicated hilir sepanjang kurang lebih 2.700 kilometer yang dibangun sebagian besar oleh Pertamina Group lewat pendanaan sendiri.

“Indonesia masih dalam tahap pengembangan dan ketersediaan infrastruktur belum merata, hanya masih terbatas di daerah tertentu dengan demand lebih tinggi dan dekat dengan titik supply,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan sebagian besar wilayah kerja dengan cadangan gas besar belum juga memegang kontrak perjanjian jual beli gas bumi atau gas sales agreement (GSA) di tengah pasokan gas domestik yang berlebihan pada tahun ini.

Sekretaris SKK Migas Taslim Z. Yunus mengatakan situasi itu belakangan menyebabkan sejumlah lapangan gas potensial justru terlantar atau ditunda pengembangannya lantaran belum jelasnya GSA dengan pembeli potensial.

“Energi kita masih menggunakan minyak terbesar sehingga lapangan gas kita banyak yang stranded seperti di Natuna, Bintuni punya Genting Oil lalu ada di Sumatera Barat dan beberapa tempat lain termasuk yang besar di Masela belum ada gas sales agreement-nya,” kata Taslim dalam Webinar Dunia Energi, Selasa (27/9/2022).

Selain konsumsi energi domestik yang mayoritas dari minyak mentah, Taslim mengatakan, serapan gas dari industri hilir dan rumah tangga belum cukup optimal hingga saat ini. Konsekuensinya, 30 persen produksi gas domestik yang berlebih itu dijual ke luar negeri.

Di sisi lain, SKK Migas melaporkan lebih dari 50 persen penemuan sumur eksplorasi dalam sepuluh tahun terakhir berupa gas. Adapun 70 persen rencana pengembangan lapangan atau plant of development (PoD) berasal dari pengembangan lapangan gas.

“Gas kita reserved replacement ratio tiga tahun terakhir sudah di atas 100 persen artinya kita surplus, sementara kebutuhan domestik ini masih belum menggeliat kita berharap makin banyak juga konsumsi dalam negerinya,” kata dia.

Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) melaporkan beberapa rencana pengembangan lapangan gas mesti ditunda lantaran sejumlah blok belum mendapatkan calon pembeli untuk produksi mereka.

Direktur Aspermigas Moshe Rizal mengatakan situasi itu terjadi lantaran pertumbuhan konsumsi gas domestik cenderung lamban ketimbang volume pasokan yang belakangan malah diproyeksikan surplus cukup lebar.

“Memang benar, untuk produksi gas itu sebelum mereka produksi mereka harus sudah ada pembelinya dulu, kalau pembeli belum siap atau belum ada pasti produksinya ditunda,” kata Moshe saat dihubungi, Senin (20/8/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas skk migas gas Harga Gas blok migas hulu migas pipa gas gas industri gas bumi
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top