Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soal Rencana RI Ekspor 100.000 Ton Jagung, Ini Respons Kemendag

Kemendag mengusulkan agar rencana ekspor 100.000 ton jagung ditunda. Mengapa?
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 22 September 2022  |  16:30 WIB
Soal Rencana RI Ekspor 100.000 Ton Jagung, Ini Respons Kemendag
Presiden Joko Widodo (kiri) menyaksikan pekerja memanen dalam acara panen raya jagung di Gorontalo, Jumat (1/3/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyarankan agar rencana ekspor 100.000 ton jagung yang diusulkan pelaku usaha ditunda. Alasannya, harga jagung saat ini cenderung turun yaitu menyentuh angka US$249 per ton.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Syailendra menyampaikan selain harga yang cenderung turun, produksi jagung secara nasional pun juga turun. Meski tidak merinci datanya, Syailendra mengatakan produksi jagung sampai kuartal terakhir pada 2021 turun.

“Kalau surplus dan ekspor kita tentunya mendukung ya. Karena dari sisi perdagangan kita mendapatkan devisa. Kalau melihat neraca yang dibuat BPKP [Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan] itu surplus itu ada di kuartal pertama, selanjutnya minus. Secara total surplus, tapi kalau dilihat bulan per bulan contohnya pada 2021, neracanya minus sampai kuartal terakhir,” kata Syailendra, Kamis (22/9/2022).

Dia juga menambahkan, jika harga jagung perkembangannya cenderung turun dan terakhir pada bulan Agustus 2022 harganya US$249 per ton. Berbeda dengan bulan Juni 2022 mencapai US$335,71 per ton. Harga jagung internasional mencapai harga tertinggi pada April 2022 sebesar US$348,17 per ton.

“Kalau harga tipis-tipis saja, untungnya kecil kecil saja lebih bagus menyiapkan keperluan domestik. Ini kan sama untuk komoditas lain. Artinya kita harus memprioritaskan kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.

Syailendra mengatakan kebutuhan peternak unggas terhadap jagung sangat tinggi yang mencapai 800.000 ton per tahun. Berdasarkan pengalaman pada 2021, imbuhnya, peternak kerap mengeluh harga jagung tinggi.

“Saran saya, kalau memang surplusnya secara total, mungkin pascapanennya yang perlu dipertimbangkan lagi, paling tidak yang surplus itu ditaruh silo yang bagus. Kalau stok kita ada dan memang dikuasai tentu bisa menjaga stabilitas harga jagung,” tutur Syailendra.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) yang dikutip dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2019 total produksi jagung sebesar 22.586.209 ton, 2020 sebesar 22.920.000 ton, dan 2021 sebesar 23.042.762 ton.

Luas panen jagung rata-rata meningkat 0,72 persen, produktivitas rata-rata meningkat 0,28 persen meskipun ada penurunan pada 2021 dan produksi rata-rata meningkat 1,01 persen.

Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan Moh. Ismail Wahab mengatakan bahwa pihaknya telah membuat sasaran produksi jagung pada tahun 2022. Yakni luas tanam 4.265.068 juta hektar (ha), luas panen 4.117.497 ha, produktivitas dengan rata-rata 56,11 kwintal per ha, dan produksi 23.103.448 ton.

Meski demikian, Ismail Wahab menjelaskan tren menanam jagung pada April hingga Agustus 2022 cenderung menurun dan dikhawatirkan cadangan jagung nasional terlalu mepet apabila harus diekspor.

“Ya ini agak-agak mepet. Kenapa saya kadang-kadang berpikir kalau mau ekspor tuh jangan di bulan Agustus, September karena produksi kita turun dibanding bulan-bulan sebelumnya. Ketika ekspor di bulan-bulan ini mudah-mudahan tidak jadi masalah,” ujar Ismail Wahab dalam diskusi virtual bertema ‘Pro Kontra Ekspor Jagung’, Kamis (22/9/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jagung kemendag ekspor
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top