Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pupuk Subsidi Langka, Ini Penjelasan PT Pupuk Indonesia

PT Pupuk Indonesia menjelaskan kondisi pupuk subsidi yang disebut langka di tingkat petani.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 19 September 2022  |  17:42 WIB
Pupuk Subsidi Langka, Ini Penjelasan PT Pupuk Indonesia
Petani menabur pupuk pada tanaman padi di Aceh Besar, Aceh, Selasa (11/8/2020). - ANTARA
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pupuk Indonesia (Persero) menyampaikan bahwa saat ini pupuk yang disediakan pasti tidak akan mencukupi kebutuhan petani. Sebab, pupuk yang disediakan pemerintah hanya 1/3 dari kebutuhan petani.

Hal tersebut disampaikan Direktur PT Pupuk Indonesia Achmad Bakir Pasaman saat Raker dengan Komisi VI DPR RI pada Senin (19/9/2022) yang disiarkan secara virtual.

“Jadi kalau memang apakah pupuk kami telat, apakah pupuk kami ini bisa dilihat dari digital. Memang akan terus diteriakan langka, karena pupuk yang tersedia kalau berdasarkan eRDKK [Rencana Definitif Kebutuhan Pupuk Bersubsidi Kelompok secara Elektronik] bahwa keperluan pupuk sebesar 25 juta ton sementara pupuk yang bisa disediakan oleh subsidi sebesar 9 juta,” ujar Achmad.

Dia menjelaskan, untuk menjawab mengenai pasokan pupuk, mulai dari persediaan pupuk hingga jumlah yang tersalurkan, pihaknya menggunakan sistem digital. Dari mulai lini satu yaitu pabrik, gudang lini II, gudang lini III, distributor, kios pengecer hingga ke kelompok tani.

“Oleh karena itu, kami juga cara menjawab ini, bisa ini kami salah, bisa juga kami tidak salah. Makanya, kami membuat sistem digital end to end dari lini satu sampai lini 4 yang bisa menjawab pertanyaan tersebut,” ujar Achmad.

Menurut dia, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi hingga bulan Agustus sebesar 63 persen dan diharapkan pada Desember minimum 92 persen tersalurkan.

Sekadar informasi, mengenai keberlangsungan pupuk bersubsidi, sesuai Permentan 10/2022 terjadi ketentuan mengenai pengurangan komoditas yang mendapatkan subdsidi dari 70 komoditas menjadi 9 komoditas. Komoditas tersebut yaitu padi, kedelai, jagung, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kakao rakyat dan kopi rakyat.

Kemudian, Pupuk Indonesia tadinya ditugaskan menyalurkan 5 jenis pupuk namun dengan beleid tersebut, Pupuk Indonesia hanya ditugaskan menyalurkan pupuk Urea dan NPK.

Achmad menambahkan, sesuai Kepmentan 5/2022 pada tanggal 8 September 2022 alokasi Urea subsidi dari 4.232.704 ton menjadi 4.379.832 ton. Selanjutnya NPK semula 2.481.914 ton menjadi 2.981.799 ton.

“Kalau Urea kami cukup jadi kapasitas nasional itu cukup. Sedangkan penugasan NPK sebesar 2,9 juta ton dan kapasitas produksi kami sebesar 3 juta ton. Jadi ini produksi maksimum kami, jadi tidak ada spare lagi untuk pupuk komersil NPK. Jadi ini hanya untuk full mendukung subsidi,” tutur dia.

Lebih lanjut, Achmad menuturkan untuk memitigasi pengurangan jenis komoditas dan jenis pupuk, PT Pupuk Indonesia akan menyediakan pupuk komersial. “Namun demikian, keterbatasan kami untuk NPK terbatas untuk komersil, sedangkan Urea cukup,” kata dia.

Adapun rencana produksi pupuk oleh PT Pupuk Indonesia, kata Achmad, sampai dengan dari bulan Agustus hingga Desember 2022 ditambah cadangan sebesar 5.815.344 ton. Rinciannya untuk pupuk subsidi hingga Desember sebesar 2.920.249 ton dan non subsidi 1.535.491, sehingga totalnya 4.455.741 ton, sedangkan cadangannya pada 2023 sebesar 1.359.603 ton.

“Saat ini, stok pupuk subsidi jenis Urea 1.059.899 ton atau 223 persen di atas batas ketentuan minimal sebesar 166.888 ton. Sementara NPK stoknya sebesar 577.899 ton atau 362 persen di atas batas ketentuan minimal sebesar 99.509 ton. Alhasil total cadangan pupuk sebesar 275 persen,” tuturnya.

Achmad juga melaporkan bahwa total penjualan PT Pupuk Indonesia baik pupuk maupun non pupuk sampai dengan Agustus 2022 mencapai 8,76 juta ton. Angka itu dikontribusi oleh pupuk PSO sebesar 5,06 juta ton, pupuk komersil 2,75 juta ton dan non pupuk 0,95 juta ton. Sementara total produksi baik pupuk dan non pupuk sampai Agustus 2022 mencapai 12,85 juta ton, yang dikontribusikan oleh pupuk sebesar 8,02 juta ton dan non pupuk sebesar 4,83 juta ton.

Saat ini pupuk sering disebut langka, tidak datang tepat waktu. Kalau datang juga yang ngambil bukan yang berhak. Itulah pertanyaan yang rutin ditanyakan kepada kami. Oleh karena itu, kami juga cara menjawab ini, bis aini kami salah, bisa juga kami tidak salah. Makanya, kami membuat sistem digital and to and dari lini satu sampai lini 4 yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Karena jejak digital tidak mungkin terhapus.

Jadi kalau memang apakah pupuk kami telat, apakah pupuk kami ini bisa dilihat dari digital. Memang akan terus diteriakan langka, karena pupuk yang tersedia kalau berdasarkan ERDKK bahwa keperluan pupuk sebesar 25 juta ton sementara pupuk yang bisa disediakan oleh subsidi sebesar 9 juta ton.

Sehingga petani memegang data sesuai dengan kebutuhan usulan mereka, bukan sesuai apa yang bisa disiapkan oleh kami. Pasti petani akan berteriak karena akan mendapatkan 1/3 dari kebutuhan meerka. Otomatis petani ini yang berhak mendapatkan subsidi pun akan berteriak langka. Sebab mereka mendapatkan pupuk dengan jumlah yang tidak sesuai harapan mereka. Nah itu ada sekitar 16 juta petani yang berhak mendapatkan itu. Sedangkan ada 7 juta petani yang tidak termasuk ERDKK. Mereka tidak bisa masuk karena tidak memenuhi persyaratan ERDKK.

Namun demikian, dengan sistem ini kami ingin menjawab berapa sih alokasi yang disediakan oleh pemerintah, berapa yang diambil petani dan berapa yang menjadi penugasan kami, kapan diambil dan lain lain. Mudah-mudahan ini terjawab dengan sistem digitalisasi yang disiapkan ini.

Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi hingga bulan Agustus sebesar 63 persen dan diharapkan pada Desember minimum 92 persen tersalurkan.

Mengenai keberlangsungan pupuk bersubsidi, sesuai Permentan 10/2022 terjadi ketentuan mengenai pengurangan komoditas yang mendapatkan subdsidi dari 70 komoditas menjadi 9 komoditas. Komoditas tersebut yaitu padi, kedelai, jagung, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kakao rakyat dan kopi rakyat.

Kemudian, Pupuk Indonesia tadinya ditugaskan menyalurkan 5 jenis pupuk namun dengan beleid tersebut, Pupuk Indonesia hanya ditugaskan menyalurkan pupuk Urea dan NPK.

Sesuai Kepmentan 5/2022 pada tanggal 8 September 2022 alokasi Urea dari 4.232.704 ton menjadi 4.379.832 ton. Selanjutnya NPK semula 2.481.914 ton menjadi 2.981.799 ton.

Kalau Urea kami cukup jadi kapasitas nasional itu cukup. Sedangkan penugasan NPK sebesar 2,9 juta ton dan kapasitas produksi kami sebesar 3 juta ton. Jadi ini produksi maksimum kami, jadi tidak ada spare lagi untuk pupuk komersil NPK. Jadi ini hanya untuk full mendukung subsidi.

Sementara itu, mitigasi pengurangan jenis komoditas dan jenis pupuk, Pupuk Indonesia akan menyediakan pupuk komersial. Namun demikian, keterbatasan kami untuk NPK terbatas untuk komersil, sedangkan Urea melimpah.

Rencana produksi PT Pupuk Indonesia sampai dengan dari bulan Agustus hingga Desember 2022 ditambah cadangan sebesar 5.815.344 ton. untuk pupuk subsidi hingga Desember sebesar 2.920.249 ton dan non subsidi 1.535.491 sehingga totalnya 4.455.741 ton, sedangkan cadangannya pada 2023 sebesar 1.359.603 ton.

Saat ini stok pupuk subsidi jenis Urea 1.059.899 ton atau 223 persen di atas batas ketentuan minimal sebesar 166.888 ton. sementara NPK stoknya sebesar 577.899 ton atau 362 persen di atas batas ketentuan minimal sebesar 99.509 ton. alhasil total cadangan pupuk sebesar 275 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pupuk Pupuk Indonesia pupuk subsidi
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top