Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Operator Alat Berat Kurang, Pemerintah Dirikan Sekolah Khusus

Kementerian Perindustrian merancang Program Kerja Sama Pendidikan Vokasi Industri Setara Diploma 1 (D1) untuk operator alat berat.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 24 Agustus 2022  |  13:47 WIB
Operator Alat Berat Kurang, Pemerintah Dirikan Sekolah Khusus
Pekerja mengoperasikan alat berat untuk menyelesaikan proyek Pelabuhan Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (18/11/2020). Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan Pelabuhan Patimban akan menjadi pusat pertumbuhan kota metropolitan baru dalam pengembangan segitiga emas Rebana, serta diharapkan dapat menciptakan kurang lebih 4,3 juta lapangan pekerjaan baru yang terdiri dari pekerjaan dalam kawasan industri dan juga sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Pemerintah menyelenggarakan Program Setara D1 Operator Alat Berat yang bertujuan menunjang kinerja industri smelter nikel menjadi lebih produktif dan kompetitif.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Arus Gunawan mengatakan salah satu yang diperlukan operator alat berat yang kompeten.

"Salah satunya diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten seperti operator alat berat," kata Arus di Jakarta, Rabu (24/8/2022.

Pada awal penerapannya, BPSDMI Kemenperin melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia untuk Program Kerja Sama Pendidikan Vokasi Industri Setara Diploma 1 (D1).

Program D1 Operator Alat Berat akan diselenggarakan selama 1 tahun di AK-Manufaktur Bantaeng, Sulawesi Selatan. Lulusan program akan ditempatkan bekerja di perusahaan-perusahaan terkait.

"Kerja sama ini juga melibatkan salah satu unit pendidikan di bawah naungan BPSDMI Kemenperin, yakni Akademi Komunitas Industri Manufaktur di Bantaeng, Sulawesi Selatan," jelasnya.

Di samping itu, Direktur P. Huadi Nickel-Alloy Indonesia Leonard Hadyanto mengaku sudah menanti-nanti pemerintah menjalankan program tersebut.

"Program ini merupakan hal yang ditunggu-tunggu karena sangat membantu proses pertumbuhan perusahaannya di Kabupaten Bantaeng," ujar Leonard.

Tahun lalu, jelasnya, sebanyak 2 angkatan dari 2 program studi hasil kerja sama antara perusahaan dan dengan BPSDMI Kemenperin sudah menyerap 100 persen lulusan dari program kerja sama lainnya.

Sebagai informasi, langkah pemerintah menyelenggarakan program setara D1 untuk operator alat berat dilatarbelakangi melesatnya nilai ekspor produk olahan nikel dalam kurun 6 tahun terakhir.

Data Kemenperin mencatat, nilai ekspor produk olahan nikel melambung tinggi dari US$16 triliun per tahun pada 2014, menjadi US$306 triliun per tahun pada 2021.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alat berat emiten alat berat industri alat berat kendaraan alat berat Alat Berat
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top