Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Waspada! Ini Tantangan Ekonomi Indonesia pada Kuartal III dan IV

Berikut tantangan ekonomi Indonesia yang harus diwaspadai pemerintah pada kuartal III dan IV tahun 2022.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 Agustus 2022  |  06:22 WIB
Waspada! Ini Tantangan Ekonomi Indonesia pada Kuartal III dan IV
ILUSTRASI. Waspada! Ini Tantangan Ekonomi Indonesia pada Kuartal III dan IV. Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto meminta pemerintah mewaspadai tantangan ekonomi Indonesia pada kuartal III dan IV tahun 2022.

“Terutama kuartal III/2022 di mana momentum kemewahan musiman, entah itu hari raya keagamaan atau event-event besar lainnya relatif jarang. Ini tentu akan berimplikasi kepada kinerja perekonomian,” ucapnya dikutip dari Antara, Senin (8/8/2022). 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia secara tahunan berhasil tumbuh 5,44 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal II/2022.

Eko mengatakan capaian tersebut perlu mendapat apresiasi. Pasalnya, jika dilihat dari berbagai proyeksi, bahkan dari pemerintah sendiri, pertumbuhan ekonomi sedikit lebih rendah dibandingkan angka realisasi.

Menurutnya, jika pertumbuhan ekonomi bisa dipertahankan pada kuartal III dan IV tahun 2022 di angka 5,44 persen saja sudah sangat bagus.

Namun, dia menilai kuartal III/2022 akan lebih rendah daripada kuartal II/2022 karena tak ada momentum hari raya seperti Lebaran.

"Hanya ada perayaan Natal pada kuartal IV/2022. Lebih dari itu, tren inflasi juga meninggi dari bulan ke bulan dan itu juga akan menjadi tantangan karena inflasi menggerus daya beli dan membuat konsumsi menjadi lebih lesu kembali,” ungkap Eko.

Memasuki kuartal III/2022, dia berharap empat sektor dominan yang paling berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yaitu industri, pertambangan, pertanian dan perdagangan bisa kembali dipacu.

Hal tersebut menimbang kinerja keempat sektor itu terhadap PDB masih lamban lantaran hanya bertumbuh secara rata-rata yakni 4 persen (yoy) atau di bawah pertumbuhan ekonomi triwulan II/2022 yang sebesar 5,44 persen.

“Yang tumbuh kemarin sebenarnya sektor-sektor enabler atau pendukung. Justru sektor utamanya belum pulih banget. Ini gambaran bagaimana kalau kita tidak dorong sektor dominannya, maka rentan perekonomian,” katanya.

Dia menilai adanya ketidakpastian global terutama perihal geopolitik, seperti perang antara Rusia dengan Ukraina, menambah tantangan perekonomian kuartal III dan IV tahun ini Belum lagi ditambah provokasi Amerika Serikat (AS) dengan datang ke Taiwan, yakni Ketua DPR AS Nancy Pelosi.

Menurutnya, konflik China vs Taiwan juga bisa menimbulkan ketidakpastian yang lebih tinggi lagi, geopolitik yang memanas tadinya hanya di Eropa sekarang bergeser ke Asia. 

Dari sisi keuangan, agresivitas kenaikan suku bunga acuan The Fed disebut masih bakal berlangsung sampai ada tanda-tanda tekanan inflasi di AS mereda.

The Fed menargetkan agresivitas akan dihentikan jika inflasi AS mencapai 2 persen, sementara kini berada di posisi lebih dari 9 persen.

"Tahun depan diperkirakan masih ada kenaikan Fed Fund Rate [FFR] yang kemungkinan berimplikasi terhadap volatilitas di sektor keuangan," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indef pertumbuhan ekonomi indonesia Inflasi
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top