Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga TBS Masih Rendah, Pengusaha Sawit Lepas Tangan

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengungkapkan rendahnya harga Tandan Buah Segar atau TBS murni mekanisme pasar.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 04 Agustus 2022  |  15:13 WIB
Harga TBS Masih Rendah, Pengusaha Sawit Lepas Tangan
Petani Sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menggelar aksi demonstrasi menolak larangan ekspor CPO di depan Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa, 17 Mei 2022 - BISNIS - Annasa Rizki Kamalina.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan petani seharusnya mengeluh rendahnya harga tandan buah segar (TBS) kepada pasar. Sebab, menurut dia, pasarlah yang menentukan harga TBS, termasuk minyak harga minyak sawit.

Hal tersebut dia sampaikan dalam acara Focus Grup Discussion (FGD) “Mempercepat Hilirisasi Kebun Sawit Rakyat dengan Kemitraan” yang disiarkan secara daring, Kamis (4/8/2022).

“Jadi kalau petani itu ngeluh, protes [harga TBS rendah], protesnya kepada pasar. Karena harga yang membuat harga itu pasar. Kita tidak bisa mengatur-atur harga. Kalau harga diatur-atur yang terjadi seperti sekarang ini, terjadi distorsi dimana-mana,” ujar Joko dalam sambutannya.

Joko menambahkan bahwa kemitraan antara pengusaha sawit dengan petani penting sebagai jembatan agar saling mengambil akses. Dari sisi pengusaha bisa mengakses apa yang ada di hilir, sebaliknya juga petani bisa meningkatkan kualitas kebun dan kepastian tata niaganya.

“Mudah-mudahan dengan kemitraan ini petani mendapatkan kepastian tata niaga, out taker, pengusaha juga mendapat kepastian suplai, kepastian dalam berkelanjutan sehingga menguntungkan,” ungkapnya.

Dengan kemitraan, lanjut Joko, diharapkan juga kedua belah pihak bisa memperoleh marjin yang baik dari harga sawit.

“Jadi bahasanya bukan petani mendapatkan harga yang baik. Yang betul petani mendapatkan margin yang terbaik. Gimana caranya? Produktivitasnya tinggi, costnya rendah. Sehingga dalam kondisi bergejolak pun kita mendapatkan marginyang baik,” jelasnya.

Beberapa bulan ini, semenjak terjadi pelarangan ekspor minyak sawit mentah (CPO) pada April lalu, harga TBS masih sulit merangkak naik segacara signifikan. Padahal, pemerintah sudah membuka kembali ekspor CPO. Bahkan, saat ini pemerintah sudah menghapus pungutan ekspor (PE) CPO.

“Obatnya mendongkrak TBS adalah Permendag Nomor 46/2022 harus menjadi rujukan penetapan harga TBS Petani, ganti DMO DPO dengan subsidi MGS Minyakita dengan danan BPDPKS; dan revisi Permentan 01 2018 [Yang membedakan harga TBS petani swadaya dan plasma],” ungkap Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Kamis (4/8/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak sawit sawit kelapa sawit tbs minyak sawit mentah petani sawit industri sawit emiten sawit
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top