Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Tahunan Juli 2022 Diproyeksi Tembus 4,8 Persen, Ini Penyebabnya

Tingkat inflasi pada Juli 2022 diproyeksi mencapai 0,52 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 31 Juli 2022  |  16:32 WIB
Inflasi Tahunan Juli 2022 Diproyeksi Tembus 4,8 Persen, Ini Penyebabnya
Pedagang melayani pembeli di Pasar Karbela, Jakarta, Senin (9/5/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2022 sebesar 0,95 persen month on month (mom) atau secara tahunan sebesar 3,47 persen year on year (yoy) yang disebabkan kenaikan harga minyak goreng, daging ayam ras dan telur ayam ras. ANTARA FOTO - Dhemas Reviyanto
Bagikan

Bisnis com, JAKARTA – Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan tingkat inflasi pada Juli 2022 mencapai 0,52 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Kenaikan inflasi tersebut diperkirakan melambat dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,61 persen mtm.

Namun demikian, secara tahunan, Josua memperkirakan tingkat inflasi pada Juli 2022 mencapai 4,82 persen (year-on-year/yoy).

"Inflasi tahunan diperkirakan meningkat menjadi 4,82 persen yoy dari sebelumnya 4,35 persen yoy," katanya kepada Bisnis, Minggu (31/7/2022).

Josua menjelaskan perlambatan inflasi secara bulanan disebabkan oleh perlambatan inflasi dari komponen barang bergejolak atau volatile food, meski masih relatif tinggi dibandingkan dengan periode bulan-bulan sebelumnya.

"Beberapa komoditas pangan yang masih mendorong inflasi harga bergejolak diantaranya bawang merah 20 persen mtm, cabai merah 17 persen mtm, dan cabai rawit 5,8 persen mtm," jelasnya.

Di sisi lain, imbuhnya, terdapat beberapa komoditas pangan yang berkontribusi pada deflasi karena tren harga yang cenderung menurun, yaitu daging ayam sebeasar -2,4 persen mtm, bawang putih -2,2 persen mtm, dan minyak goreng -6,3 persen mtm.

Sejalan dengan itu, inflasi pada komponen inti juga diperkirakan melambat secara bulanan, dipicu oleh harga emas yang  mengalami penurunan sebesar 2 persen mtm dan harga gula pasir sebesar 0,8% mtm pada Juli 2022.

"Meskipun demikian, kenaikan biaya pendidikan tinggi justru tetap mendorong inflasi inti," kata Josua.

Secara tahunan, dia memperkirakan inflasi inti pada Juli 2022 akan meningkat menjadi 2,84 persen yoy dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,63 persen yoy.

Josua menambahkan dorongan inflasi pada komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices, masih cenderung tinggi pada Juli 2022.

Faktor pendorong inflasi pada komponen administered prices tersebut yaitu kenaikan beberapa jenis bahan bakar, seperti LPG non-subsidi, Pertamax Turbo, DexLite, dan Pertamina Dex.

"Harga tiket pesawat juga masih relatif tinggi akibat masih tingginya harga bahan bakar avtur," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi avtur harga pangan energi baru terbarukan
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top