Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pemerintah China Bentuk Lembaga Pendanaan, Saham Properti China Melonjak

Investor meningkatkan ekspektasi pada sektor properti China setelah REDD melaporkan bahwa Dewan Negara menyetujui rencana untuk menyiapkan lembaga dana.
Nabila Dina Ayufajari
Nabila Dina Ayufajari - Bisnis.com 25 Juli 2022  |  19:13 WIB
Pemerintah China Bentuk Lembaga Pendanaan, Saham Properti China Melonjak
Pembangunan apartemen di China - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Saham emiten properti China dan obligasi berdenominasi dolar AS menguat pada Senin (25/7/2022) menyusul langkah pemerintah China untuk membentuk lembaga pendanaan guna menyuntikkan modal ke pengembang properti, memicu optimisme perubahan haluan untuk sektor yang tengah dilanda krisis ini.

Dilansir Bloomberg pada Senin (25/7/2022), indeks Bloomberg Intelligence yang melacak perusahaan real estat melonjak 1,7 persen. Sementara itu, obligasi dolar AS berimbal hasil tinggi China, yang sebagian besar diterbitkan oleh pengembang, naik setidaknya 1 sen terhadap dolar.

Investor melanjutkan ekspektasi pada sektor properti China setelah REDD melaporkan bahwa Dewan Negara China telah menyetujui rencana untuk menyiapkan lembaga dana guna mendukung 12 pengembang dan beberapa perusahaan real estate baru yang dipilih oleh otoritas lokal.

Jika benar, maka langkah tersebut akan menjadi jurus jitu yang diambil oleh Beijing untuk menyelamatkan sektor yang bergolak oleh default besar-besaran akibat penjualan yang merosot dan boikot pembayaran KPR.

Manajer portofolio Pendal Group Ltd Amy Xia Patrick mengatakan boikot pembayaran KPR secara efektif memaksa Beijing untuk meringankan kondisi kredit bagi pengembang.

“Dana real estat, jika dikonfirmasi, adalah inisiatif yang lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya meminta bank-bank pemerintah untuk memberikan pinjaman kepada pengembang properti, tetapi itu tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah kecuali dapat dikapitalisasi oleh cek kosong dari pemerintah China," ungkap Patrick.

Menurut REDD, pendanaan tersebut memperoleh 50 miliar yuan (US$7,4 miliar) dari China Construction Bank Corp. dan fasilitas pinjaman 30 miliar yuan dari bank sentral People's Bank of China.

"Angka itu dapat ditingkatkan menjadi antara 200 miliar yuan dan 300 miliar yuan," imbuh Patrick.

Diketahui, regulator telah meminta China Construction Bank untuk menjajaki program percontohan dalam menyiapkan dana dengan pemerintah daerah terpilih guna membeli proyek yang sedang dibangun dan belum menemukan pembeli. Tujuannya adalah mengubahnya menjadi apartemen untuk sewa jangka panjang.

Di antara saham-saham top gainers, Guangzhou R&F Properties Co naik 5,7 persen, dengan Country Garden Holdings Co naik 4,5 persen.

Di pasar kredit, obligasi dolar dari pengembang China kelas investasi melonjak seiring dengan saingannya yang dipimpin oleh China Vanke Co. dan Longfor Group Holdings Ltd.

Terlepas dari kenaikan, sudut lain dari pasar utang China terus memberikan sinyal peringatan. Misalnya, dua perusahaan di industri properti China melihat obligasi domestik mereka menjadi tidak berharga ketika dijanjikan untuk pinjaman di pasar yang diperdagangkan di bursa minggu lalu yang menggarisbawahi meningkatnya tekanan di sektor ini.

Bagi sebagian pengamat, besarnya dana negara yang dilaporkan masih jauh dari cukup untuk meredakan krisis.

Ke-12 pengembang yang diharapkan mendapat manfaat dari penyelamatan ini memiliki utang jangka pendek gabungan sebesar 742 miliar yuan, berdasarkan pandangan analis UBS AG termasuk John Lam menulis dalam sebuah laporan.

"Jumlah itu akan membengkak menjadi 4,05 triliun yuan ketika memperhitungkan jumlah utang kepada pembeli rumah dan pemasok," tulis mereka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti china
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top