Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bos IMF Beri Pesan Indonesia Harus Subsidi Rakyat Miskin, Jangan ke Orang Kaya

Direktur Pelaksana IMF menyampaikan sangat penting bagi kebijakan fiskal Indonesia untuk tetap fokus memberikan bantuan dengan sasaran yang tepat, bukan dengan memberikan subsidi kepada semua orang termasuk yang kaya.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 17 Juli 2022  |  19:27 WIB
Bos IMF Beri Pesan Indonesia Harus Subsidi Rakyat Miskin, Jangan ke Orang Kaya
Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva (tengah) bersama Menteri BUMN Erick Thohir (kiri), serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno berkunjung ke pusat perbelanjaan Sarinah di Jakarta, Minggu (17/7/2022). - Bisnis/Wibi Pangestu.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — International Monetary Fund atau IMF menyarankan Indonesia untuk tidak memberikan subsidi secara umum, karena orang-orang kaya dapat turut menikmatinya. Agar perekonomian dapat tumbuh optimal di masa sulit, subsidi harus fokus menyasar masyarakat miskin dan rentan.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva ketika mengunjungi pusat perbelanjaan Sarinah pada Minggu (17/7/2022). Dia hadir bersama Menteri BUMN Erick Thohir dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno.

Menurutnya, Indonesia berhasil mencatatkan kinerja perekonomian yang baik ketika pandemi Covid-19, tercermin dari catatan pertumbuhan ekonomi yang terjaga positif. Namun, dia menilai bahwa kinerja itu dapat terus meningkat jika terdapat penyaluran subsidi yang lebih baik.

Georgieva menilai bahwa saat ini Indonesia memberikan subsidi secara umum sehingga siapapun bisa menikmatinya. Misalnya, semua orang bisa membeli bahan bakar minyak (BBM) dan liquid petroleum gas (LPG) 3 kilogram bersubsidi, termasuk orang kaya.

"Sangat penting bagi kebijakan fiskal Indonesia untuk tetap fokus dalam memberikan bantuan dengan sasaran yang tepat, bukan dengan memberikan subsidi kepada semua orang termasuk yang kaya, tetapi fokus kepada mereka yang sangat membutuhkan," ujar Georgieva pada Minggu (17/7/2022).

Menurutnya, penyaluran subsidi yang berlaku umum itu menimbulkan beban anggaran yang terlalu besar. Imbasnya, belanja itu mendorong kenaikan inflasi (push-inflation).

Georgieva pun menilai bahwa kebijakan Indonesia dalam melakukan burden sharing, melalui kerja sama antara pemerintah dengan Bank Indonesia, merupakan langkah yang tepat. Meskipun kebijakan tersebut akan berakhir pada tahun ini, Georgieva menilai bahwa burden sharing efektif untuk menjaga kondisi perekonomian dari tekanan global.

Kemudian, agar perekonomian dapat tumbuh lebih optimal, Georgieva menyarankan Indonesia untuk memperkuat dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Alasannya, Indonesia merupakan market economy, sehingga dukungan terhadap UMKM yang menjadi penyangga perekonomian akan menyelamatkan Indonesia secara keseluruhan.

"Kalian [Indonesia] mendapatkan dukungan karena kalian mendukukung diri sendiri [dengan menjaga UMKM]," katanya sembari menunjuk gerai-gerai UMKM yang ada di Sarinah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

imf subsidi apbn penduduk miskin umkm
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top