Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Turki Meroket 78,6 Persen pada Juni 2022, Kebijakan Erdogan Gak Mempan?

Tekanan inflasi Turki datang dari harga energi yang melonjak 151,3 persen year-on-year (yoy), sementara inflasi bahan makanan mencapai hampir 94 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 Juli 2022  |  19:14 WIB
Inflasi Turki Meroket 78,6 Persen pada Juni 2022, Kebijakan Erdogan Gak Mempan?
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin - The Moscow Times

Bisnis.com, JAKARTA – Turki mencatat mencatatkan inflasi nyaris 80 persen pada bulan Juni 2022. Kebijakan Presiden Recep Tayyip Erdogan mempertahankan suku bunga sejak akhir Desember 2021 tak memberikan hambatan bagi laju kenaikan harga.

Dilansir Bloomberg pada Senin (4/7/2022), badan statistik Turki mencapai 78,6 persen pada bulan Juni 2022 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, level tertinggi sejak 1998. Tekanan inflasi lebih lanjut datang dari harga energi yang melonjak 151,3 persen year-on-year (yoy), sementara inflasi bahan makanan mencapai hampir 94 persen.

Inflasi telah mencapai angka dua digit sejak awal tahun 2017, tetapi meledak tahun ini mendekati level tertinggi dalam 25 tahun terakhir menyusul melonjaknya biaya energi dan komoditas lainnya.

Erdogan, yang percaya bahwa suku bunga yang lebih rendah akan membantu menurunkan inflasi, telah mengakui bahwa kenaikan harga yang lebih cepat justru membebani masyarakat.

Sebelumnya, Erdogan masih bersandar pada bank sentral mempertahankan suku bunga dalam upaya untuk memikat investasi dan menopang popularitasnya yang memudar. Suku bunga utama bank sentral dipertahankan di 14 persen sejak Desember 2021.

Menjelang pemilihan yang dijadwalkan Juni 2023 mendatang, pemerintahnya pada hari Jumat mengumumkan kenaikan upah minimum interim untuk pertama kalinya dalam enam tahun. Turki menaikkan gaji hampir 30 persen. Turki telah meningkatkan upah minimumnya sebesar 50,5 persen pada Januari.

Ekonom Bloomberg Economics Selva Bahar Baziki memperkirakan inflasi akan naik lebih jauh pada kuartal ketiga tahun ini di tengah kebijakan bank sentral yang tak berubah.

"Kami memperkirakan inflasi akan naik lebih jauh pada kuartal ketiga di tengah biaya energi yang tinggi, mata uang yang lebih lemah dan keengganan bank sentral untuk menaikkan suku bunga untuk membendung kenaikan harga," ungkap Baziki seperti dikutip Bloomberg, Senin (4/7/2022).

Kombinasi kerusakan yang ditimbulkan sendiri dan tekanan harga dari luar negeri telah menimbulkan badai di Turki yang diperkirakan Dana Moneter Internasional akan menghasilkan inflasi tertinggi di dunia tahun ini setelah Venezuela, Sudan dan Zimbabwe.

Indeks inflasi inti, yang mengecualikan harga barang-barang yang volatil termasuk makanan dan energi, naik di bulan Juni menjadi 57,3 persen yoy dari 56 persen di bulan sebelumnya.

Sementara itu, indeks harga produsen yang menjadi indikator awal inflasi, telah tumbuh lebih dari 100 persen selama lima bulan berturut-turut. Indeks naik 138,3 persen yoy pada bulan Juni. Adapun indeks harga transportasi mengalami kenaikan tahunan terbesar di bulan Juni, diikuti oleh makanan dan minuman non-alkohol serta perabotan dan peralatan rumah tangga.

Bank sentral Turki, yang lebih dari dua bulan lalu memperkirakan inflasi sudah bisa mulai melambat pada awal Juni, belum menaikkan suku bunga acuan dalam lebih dari setahun terakhir setelah pelonggaran moneter pada akhir 2021. Bank sentral hanya merespons dengan langkah-langkah untuk meredakan pinjaman.

Lira melanjutkan pelemahannya dolar AS pada bulan Juni, menambah kinerja terburuk tahun ini di pasar negara berkembang yang memicu inflasi dengan membuat barang impor lebih mahal. Lira melemah tipis setelah laporan inflasi dan diperdagangkan turun 0,4 persen pada 16,8163 per dolar AS pada 11.06 pagi di Istanbul.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

turki Inflasi Recep Tayyip Erdogan erdogan
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top