Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Cabai dan Bawang Tinggi, Kemendag: Stoknya Masih Defisit

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan harga cabai dan bawang tinggi akibat stok masih defisit.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 23 Juni 2022  |  16:49 WIB
Pedagang menunjukkan cabai dagangannya di Pasar Kranggan, Yogyakarta, Selasa (21/6/2022). Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan harga cabai dan bawang tinggi akibatstok masih defisit. ANTARA FOTO - Andreas Fitri Atmoko
Pedagang menunjukkan cabai dagangannya di Pasar Kranggan, Yogyakarta, Selasa (21/6/2022). Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan harga cabai dan bawang tinggi akibatstok masih defisit. ANTARA FOTO - Andreas Fitri Atmoko

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan harga cabai dan bawang tinggi akibat stok masih defisit dari kebutuhan harian dipengaruhi musim panen dan penyakit tanaman.

Dalam pantauan Kemendag satu minggu terakhir di 20 pasar induk, stok indikatif cabai sebesar 340,03 ton per hari sementara normalnya pasokan sebesar 386.000 ton/hari. Artinya pasokan saat ini 11,91 persen dibawah pasokan normal.

Sementara stok indikatif cabai berada 8,5 persen di bawah pasokan normal. Semula per harinya tersedia 605,5 ton, kini hanya 554,03 ton.

Laporan tersebut tertuang dalam Perkembangan Harga, Inflasi, dan Stok Indikatif barang Kebutuhan Pokok milik Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri yang dirilis pada Selasa (21/6/2022). 

Akibatnya, harga terpantau tinggi di wilayah-wilayah tertentu yang minim pasokan, salah satunya Jakarta.

Kemendag mencatat perkembangan harga cabai merah keriting, merah besar, dan rawit merah naik masing-masing 76,53 persen, 58,12 persen, dan 89,57 persen dibandingkan dengan harga di bulan lalu.

Per 27 Mei 2022 harga eceran nasional cabai merah keriting sebesar Rp46.800/kg dan pada 21 Juni 2022 harganya naik 76,53 persen menjadi Rp72.200/kg. Cabai merah besar naik 58,12 persen dari Rp48.600 per kilogram menjadi Rp69.100 per kilogram.

Kenaikan tertinggi terjadi untuk cabai rawit merah yang pada bulan lalu di harga Rp55.900/kg menjadi Rp92.700/kg.

Adapun harga bawang merah telah lebih dahulu naik yang mana per 27 Mei 2022 mencapai Rp41.900 per kilogram atau naik 17,37 persen dari bulan sebelumnya, sementara per 21 Juni 2022 kembali naik sebesar 36,08 persen (mtm) menjadi Rp56.200/kg.

Kemendag mengatakan tren kenaikan harga cabai diakibatkan curah hujan yang masih relatif tinggi dan serangan penyakit patek. 

“Kenaikan harga cabai disinyalir karena curah hujan tinggi dan serangan penyakit Antracnose/patek di sentra produksi (Tuban, Blitar, dan Kediri) yang menyebabkan panen berkurang signifikan,” kata Kemendag lewat laporan tersebut dikutip Kamis (23/6/2022). 

Di sisi lain, bawang merah kekurangan stok akibat telah berlalunya musim panen dan memasuki musim tanam.

“Pasokan diperkirakan akan kembali normal pada masa panen raya bulan Juli sampai dengan September,” lanjut Kemendag.

Tidak semua wilayah mengalami kenaikan harga dan kekurangan pasokan komoditas tersebut. Wilayah-wilayah yang surplus seperti Sulawesi Selatan terpantau jauh lebih rendah dari harga di Jabodetabek. Untuk itu, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional pada 16 Juni 2022 telah membantu mendistribusikan 7,8 juta ton cabai dari Sulawesi ke pasar di Jabodetabek.

Meski sudah dilakukan distribusi tersebut, stok masih belum cukup dan harga komoditas tersebut masih relatif tinggi dari harga acuan. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) meminta pemerintah untuk terus menekan harga cabai dan bawang merah.

“Kami meminta kepada pemerintah untuk membantu subsidi distribusi dari wilayah-wilayah yang surplus ke wilayah-wilayah yang kebutuhan konsumsinya cukup besar,” ujar Sekretaris Jenderal Ikappi Reynaldi Sarijowan, Rabu (22/6/2022). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemendag bawang harga cabai harga bawang
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top