Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Merpati Airlines Pailit, Berikut Sederet Maskapai RI Lain yang Kini Tinggal Nama

Selain Merpati Airlines, berikut sederet maskapai Tanah Air yang kini tinggal nama.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 09 Juni 2022  |  11:36 WIB
Merpati Airlines Pailit, Berikut Sederet Maskapai RI Lain yang Kini Tinggal Nama
Merpati Airlines - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – PT Merpati Nusantara Airlines diputuskan pailit berdasarkan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Putusan pailit ditetapkan pada sidang, Kamis (2/6/2022).

Pemerintah pun sudah menyatakan bahwa tidak akan memberikan bantuan dana atau penanaman modal negara (PMN) kepada maskapai yang terakhir mengudara pada 2014 silam itu.

"Enggak. Enggak ada [PMN untuk Merpati Airlines]," ujar bendahara negara atau Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat ditanya soal opsi penyelamatan Merpati Airlines, Selasa (7/6/2022).

Sebelum Merpati, terdapat sederet maskapai Tanah Air yang sudah duluan bangkrut. Di antara maskapai yang sudah tutup usia ini, sebagian dinyatakan pailit dan ada yang dicabut izinnya oleh pemerintah.

Selain Merpati, berikut sederet maskapai Tanah Air yang kini tinggal nama:

1. Adam Air

PT Adam SkyConnection Airlines merupakan maskapai penerbangan milik swasta yang dihentikan operasinya sejak 17 Maret 2008. Pada 18 Maret 2008, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), saat itu Departemen Perhubungan (Dephub), mencabut izin terbang atau Operation Specification maskapai.

Berdasarkan catatan Bisnis, sekitar setahun sebelum pencabutan izin operasi, Adam Air dinyatakan berada di peringkat III sesuai dengan pemeringkatan yang dilakukan pemerintah saat itu. Peringkat itu berarti Adam Air hanya memenuhi syarat minimal keselamatan, serta belum melaksanakan beberapa persyaratan dan berpotensi mengurangi tingkat keselamatan.

Seperti diketahui, maskapai berwarna oranye itu sebelumnya telah mengalami berbagai insiden dan kecelakaan di Indonesia. Salah satu yang terbesar yakni jatuhnya penerbangan Jakarta-Surabaya-Manado yang jatuh di Selat Makassar pada 1 Januari 2007. Sebanyak 96 penumpang dan 6 orang awak pesawat dinyatakan tewas.

Saat masih beroperasi, Adam Air mengoperasikan penerbangan berjadwal domestik ke 20 kota dan layanan internasional ke Penang dan Singapura. Dengan berbasis utama di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Adam Air merupakan maskapai penerbangan yang termasuk bertarif rendah.  

2. Mandala Airlines

Mandala Tigerair adalah maskapai penerbangan bertarif rendah Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta. Maskapai nasional berumur 40 tahun itu "tutup usia" pada 1 Juli 2014, setelah penerbangan terakhir RI 545 Hong Kong ke Surabaya, akibat masalah ekonomi perusahaan.

Sebelum berhenti pada delapan tahun silam, Mandala sempat berhenti beroperasi juga pada 12 Januari 2011 karena masalah utang. Artinya, maskapai tersebut sempat berhenti beroperasi sebanyak dua kali.

Pada saat itu, utang Mandala Airlines mencapai Rp800 miliar kepada kreditur dan disetujui untuk mengalami restrukturisasi menjadi saham. Saat sempat kembali beroperasi, Mandala mengalami pergantian kepemilikan saham menjadi mayoritas dipegang oleh PT Saratoga Investment Group 51 persen, Tiger Airways 33 persen, dan 16 persen sisanya dimiliki pemegang saham lama serta kreditor.

3. Batavia Air

PT Metro Batavia adalah maskapan penerbangan Indonesia yang mulai beroperasi 5 Januari 2022 dan berhenti beroperasi pada 31 Januari 2013, akibat dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Dalam surat putusan No.77/pailit/2012/PN.NIAGA.JKT.PST pada 30 Januari 2013, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mempailitkan Batavia Air. Hal tersebut berdampak pada berhentinya operasi terbang sejak akhir Januari 2013 Pukul 00.00. Pailit itu disebabkan oleh adanya permohonan yang diajukan perusahaan sewa guna pesawat International Lease Finance Corporation (ILFC).

Batavia Air - wikipedia

Seperti halnya Adam Air, Batavia dinyatakan menduduki peringkat III saat pemerintah melakukan pemeringkatan pesawat karena banyaknya insiden dan kecelakaan maskapai. Hasil pemeringkatan dibacakan pada Maret 2007, dan Batavia Air dinyatakan hanya memenuhi syarat minimal keselamatan dan masih ada beberapa persyaratan yang belum dilaksanakan dan berpotensi mengurangi tingkat keselamatan penerbangan.

Akibat hasil pemeringkatan tersebut, Batavia Air mendapatkan sanksi administratif yang akan di-review kembali setiap tiga bulan. Bila tidak ada perbaikan kinerja, maka Izin Operasi Penerbangan (Air Operator Certificate) dapat dibekukan sewaktu-waktu.

Berdasarkan catatan Bisnis, sebelum bangkrut, Batavia sempat dengan cepat memperbaiki layanan dan mendapatkan penilaian kategori 1 dari Kementerian Perhubungan terhitung pada 2009 lalu. Maskapai tersebut pun termasuk di antara empat maskapai nasional yang diizinkan terbang ke Uni Eropa sejak Juni 2010.

4. Bouraq Indonesia Airlines

Diambil dari kata "buraq" yang dipahami sebagai makhluk berbadan kuda bersayap dalam ajaran Islam, Bouraq Indonesia Airlines dibangun pada 1970 dan berhenti beroperasi pada 2005. Maskapai tersebut berhenti mengepakkan sayapnya setelah kalah bersaing dengan operator penerbangan baru yang muncul di awal reformasi seperti Lion Air, Batavia Air, dan Sriwijaya Air.

Bisnis mencatat bahwa setelah era 1980-an, kinerja Bouraq semakin melaju dengan adanya 4 pesawat Vickers Viscount (VC-843), 3 buah CASA NC-212, dan 16 BAE-748 seri 2A serta 2B. Bouraq pun melayani penerbangan ke berbagai destinasi di Nusantara termasuk juga penerbangan jarak pendek atau perintis.

Kendati demikian, badai krisis menerpa Indonesia jelang reformasi. Bouraq lalu mengambil bermacam langkah strategis agar tetap mampu bertahan seperti penciutan armada, dan penutupan beberapa operasi jalur penerbangan yang dinilai kurang menguntungkan.

5. Sempati Airlines

Sempati Airlines mulai beroperasi sejak 5 Juni 1998. 30 tahun sebelum yakni 1968, perusahaan maskapai didirikan dengan nama PT Sempati Air Transport yang awalnya menawarkan jasa angkutan untuk karyawan perusahaan minyak.

Selama pertengahan dan setelah 1980-an, armada milik Sempati berkembang seiring dengan masuknya pesawat Fokker 100, Fokker 70, Boeing 737-200, dan Airbus A300B4.

Sayangnya, krisis moneter 1998 melanda Indonesia dan pada saat itu nilai mata uang rupiah terpuruk hingga mencapai Rp16.650 per dolar Amerika Serikat (AS). Bersamaan dengan hal tersebut, Sempati Air terpaksa menjual atau mengembalikan pesawatnya.

Pada Juni 1998, sebulan setelah kerusuhan Mei 1998, Sempati harus menutup operasinya.

6. Jatayu Airlines

Jatayu Gelang Sejahtera, atau Jatayu Airlines, merupakan maskapai penerbangan charter berbasis di Jakarta. Jatayu didirikan pada 2000 dan akhirnya harus dibekukan izinnya oleh Departemen Perhubungan (Dephub) pada 2008 akibat jumlah armada tidak memadai.

Sejak awal didirikan sekitar 22 tahun lalu, Jatayu pernah mengoperasikan penerbangan domestik dan internasional. Sebelum pembekuan izin oleh regulator, maskapai sempat berhenti beroperasi pada 2007.

Namun, Jatayu kembali mendapatkan lisensi pemerintah untuk beroperasi sebagai maskapai charterm utamanya untuk mengisi slot terbang yang ditinggalkan oleh Adam Air (dicabut izinnya pada Maret 2008). Namun, pada akhirnya Dephub turut membekukan izin penerbangan Jatayu karena tidak memenuhi kelayakan jumlah armada yakni minimal lima buah pesawat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pailit merpati nusantara airlines maskapai penerbangan
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top