Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi Global Bakal Terjun Bebas, Waspada Stagflasi!

Bank Dunia (World Bank) mengatakan pertumbuhan ekonomi global bakal terjun bebas pada 2022. Waspada stagflasi mengintai.
Anshary Madya Sukma
Anshary Madya Sukma - Bisnis.com 09 Juni 2022  |  13:26 WIB
Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi Global Bakal Terjun Bebas, Waspada Stagflasi!
Ilustrasi Bank Dunia atau World Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi global bakal terjun bebas - Reuters/Johannes P. Christo
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Dunia (World Bank) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global bakal terjun bebas pada 2022. Bank Dunia juga mengingatkan dampak stagflasi terhadap perekonomian dunia.

Dalam laporan Prospek Ekonomi Global terbaru, Bank Dunia mengatakan pertumbuhan ekonomi global sudah melemah dan terpapar inflasi yang berlarut-larut akibat perang Rusia vs Ukraina.

Dalam laporan tersebut, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan terjun bebas dari 5,7 persen pada 2021 menjadi 2,9 persen pada 2022.

"Angka tersebut menunjukan angka lebih rendah dari proyeksi 4,1 persen, walaupun sudah diantisipasi pada Januari 2022," seperti dikutip dari laporan Prospek Ekonomi Global Bank Dunia, Kamis (9/8/2022).

Bank Dunia menuturkan turunnya proyeksi pertumbuhan ekonimi global tersebut diperparah oleh perang Rusia vs Ukraina karena mengganggu jalannya aktivitas, investasi, dan perdagangan dalam waktu dekat.

Lalu, permintaan yang terpendam akan memudar hingga ditariknya kebijakan fiskal dan moneter. Akibatnya, pandemi Covid-19 dan perang Rusia vs Ukraina menyebabkan tingkat pendapatan per kapita di negara-negara berkembang tahun ini akan hampir dibawah 5 persen dibandingkan pra-pandemi.

Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan bahwa perang di Ukraina menganggu rantai pasokan dan membuat stagflasi akan menghambat pertumbuhan ekonomi yang sulit dihindari.

“Pasar bisa melihat ke depan, jadi sangat mendesak untuk mendorong produksi dan menghindari pembatasan perdagangan. Perubahan dalam kebijakan fiskal, moneter, iklim, dan utang diperlukan untuk melawan misalokasi modal dan ketidaksetaraan,” ujar Malpass seperti dikutip, Kamis (9/6/2022).

Stagflasi Era 1970-an

Dalam laporan Prospek Ekonomi Global yang dirilis pada Juni 2022, Bank Dunia telah melakukan penilaian yang sistematis tentang bagaimana kondisi ekonomi global saat ini jika dibandingkan dengan stagflasi pada periode 1970-an.

Pada saat itu, lanjut Bank Dunia, dengan dilakukannya penekanan khusus pada stagflasi maka hal itu dapat memengaruhi pasar dari negara berkembang hingga dapat menumbuhkan perekonomian ekonomi.

Pemulihan dari stagflasi tahun 1970-an membutuhkan kenaikan suku bunga di negara-negara maju, karena negara maju tersebut memiliki peran penting dalam memicu serangkaian krisis keuangan di pasar negara berkembang dan menumbuhkan ekonomi.

Direktur Grup Prospek Bank Dunia Ayhan Kose mengatakan bahwa perekonomian yang berkembang tentunya harus menyeimbangkan kebutuhan untuk memastikan keberlanjutan fiskal untuk mengurangi dampak krisis yang tumpang tindih terhadap warganya yang tingkat ekonominya paling rendah.

“Mengkomunikasikan keputusan kebijakan moneter dengan jelas, memanfaatkan kerangka kebijakan moneter yang kredibe, dan melindungi independensi bank sentral dapat secara efektif dapat menopang ekspektasi inflasi dan mengurangi jumlah pengetatan kebijakan yang diperlukan untuk mencapai efek yang diinginkan pada inflasi dan aktivitas,” ungkap Kose.

Dengan demikian, kondisi saat ini sangat menyerupai stagflasi pada 1970-an dalam tiga aspek utama, berikut ini.

  1. Gangguan dalam sisi penawaran yang terus-menerus dapat memicu inflasi.
  2. Didahului oleh periode kebijakan moneter yang sangat akomodatif dan berkepanjangan di negara-negara maju sebagai peran penting.
  3. Prospek melemahnya pertumbuhan dan kerentanan yang akan dihadapi pasar negara berkembang.
    Alhasil, negara berkembang mau tidak mau akan melakukan pengetatan pada kebijakan moneter yang diperlukan untuk mengendalikan inflasi.

Namun, ada perbedaan kondisi saat ini dengan 1970-an. Pertama, kondisi dolar saat ini sangat kuat dibanding dengan 1970-am. Kedua, persentase kenaikan harga komoditas lebih kecil dan neraca lembaga keuangan besar yang kuat.

Ketiga, bank sentral di negara maju dan negara berkembang sekarang memiliki mandat yang jelas untuk stabilitas harga selama tiga dekade terakhir dan mereka telah menetapkan rekam jejak yang kredibel dalam mencapai target inflasi mereka tidak seperti tahun 1970-an.

Inflasi global diperkirakan akan terjadi pada tahun depan dan kemungkinan akan di atas target inflasi yang sudah ditentukan banyak negara.

Laporan Bank Dunia tersebut juga mencatat bahwa jika inflasi tetap tinggi, maka pengulangan resolusi stagflasi sebelumnya akan menyebabkan penurunan ekonomi global yang tajam dan dibarengi dengan krisis keuangan di beberapa pasar negara berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank dunia pertumbuhan ekonomi global Perang Rusia Ukraina
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top