Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Krisis Energi Global Semakin Parah, Beberapa Negara Terancam Pemadaman Listrik

Musim panas di sebagian besar belahan bumi utara adalah puncak konsumsi listrik.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 23 Mei 2022  |  19:42 WIB
Krisis Energi Global Semakin Parah, Beberapa Negara Terancam Pemadaman Listrik
Cuaca ekstrem melanda Amerika Serikat yang berdampak pada penurunan produksi minyak dan mengganggu ketersediaan pasokan listrik. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Krisis listrik membayangi sebagian kawasan dunia dengan adanya perang Rusia dan Ukraina, cuaca ekstrem, dan pemangkasan produksi menjadi penyebab utamanya.

Musim panas di sebagian besar belahan bumi utara adalah puncak konsumsi listrik. Cuaca di beberapa bagian Asia Selatan sudah sangat terik. Tak berbeda di wilayah Amerika Serikat yang juga akan menghadapi puncak terpanas dalam beberapa bulan mendatang. Penggunaan listrik akan melonjak saat rumah dan kantor menghidupkan pendingin udara atau AC.

"Peperangan dan sanksi yang mendisrupsi suplai dan permintaan, ditambah dengan cuaca ekstrem, dan pemulihan ekonomi dari Covid-19 telah meningkatkan permintaan listrik," kata analis BloombergNEF Shantanu Jaiswal, dilansir Bloomberg pada Senin (23/5/2022).

Gelombang panas di Asia telah menyebabkan pemadaman istrik yang terjadi secara harian sehingga mengancam populasi di Pakistan, Myanmar, Sri Lanka, dan India.

Adapun kelangkaan listrik di India sudah mendekati level pada 2014 dengan perkiraan memangkas sekitar 5 persen dari PDB. Artinya, ada pengurangan hampir US$100 miliar jika pemadaman meluas dan berlangsung sepanjang tahun.

Di Vietnam, pembangkit listrik milik negara telah bersiap menghadapi kelangkaan listrik selama lebih dari sebulan karena permintaan meningkat sementara pasokan batu bara domestik merosot dan biaya bahan bakar asing melonjak.

Analis Eurasia Group Henning Gloystein mengatakan dunia tengah menghadapi kemacetan rantai pasok akibat pandemi dan meluasnya dampak perang di Ukraina serta cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

“Risiko utamanya adalah jika kita melihat pemadaman listrik besar-besaran di atas semua masalah yang disebutkan di atas tahun ini, itu dapat memicu beberapa bentuk krisis kemanusiaan dalam hal kekurangan pangan dan energi," ujarnya.

Negara dengan kondisi ekonomi yang lebih maju seperti China dan Jepang juga tidak lebih baik. Kelangkaan batu bara di China telah menyebabkan pembatasan penggunaan listrik pada tahun lalu.

Pemerintah telah meminta penambang batu bara meningkatkan produksi. Kendari demikian, pemerintah masih memperingatkan bahwa situasi listrik akan ketat pada musim panas tahun ini di wilayah industri bagian selatan. Wilayah ini jauh dari pusat pertambangan dan sangat bergantung dengan impor energi.

Di Jepang, cuaca dingin dan gempa bumi di pembangkit listrik batu bara dan gas telah memacu permintaan listrik musim panas dan akan melampaui pasokan pada musim dingin.

Sementara itu, enam pembangkit listrik di Texas terputus pada bulan ini seiring dengan dimulainya musim panas. Masyarakat diminta untuk menghemat listrik dari pukul 15.00-20.00 waktu setempat.

Kegagalan pembangkit listrik mengakibatkan hilangnya sekitar 2.900 megawatt listrik, cukup untuk 580.000 rumah dan kalangan usaha.

Badan pengawas kelistrikan North American Electric Reliability Corporation memperkirakan bahwa ketersediaan listrik di kebanyakan wilayah di AS dan sebagian di Kanada akan semakin ketat.

Negara bagian dengan populasi terbesar seperti California mengalami pemangkasan pasokan gas karena pecahnya pipa tahun lalu yang membatasi impor.

Ekonom CoBank ACB Teri Viswanath mengatakan kondisi infrastruktur yang menua dan penundaan pemeliharaan selama pandemi telah menambah masalah cuaca menjadi lebih buruk.

"AS mengalami lebih banyak pemadaman listrik secara global daripada negara industri lainnya. Sekitar 70 persen jaringan listrik kami hampir habis masa pakainya," ujarnya.

Ancaman pemadaman di Eropa tidak separah kawasan lainnya karena tidak banyak orang menggunakan pendingin ruangan. Namun, kekeringan mata air di Norwegia membuat pasokan tenaga air terbatas.

Selain itu, produsen terbesar di kawasan itu, Electricite de France SA memangkas target produksi nuklirnya untuk ketiga kalinya tahun ini setelah pemadaman berkepanjangan.

Analis pasar pembangkit listrik Rystad Energy Fabian Ronningen mengatakan hal itu akan diperparah dengan pemangkasan ekspor gas alam ke zona euro.

Beberapa negara telah menerima impor besar gas alam cair (LNG) dan masih punya pasokan yang cukup untuk menghadapi krisis listrik, termasuk Spanyol, Prancis dan Inggris.

Namun, negara di Eropa Timur dengan ketergantungan besar seperti Yunani, Latvia, dan Hongaria akan menjadi wilayah dengan potensi pemadaman paling tinggi.

"Saya tidak berpikir konsumen Eropa bahkan bisa membayangkan skenario seperti itu. Itu tidak pernah terjadi dalam hidup kita," kata Ronningen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

listrik ekonomi global Krisis Energi Perang Rusia Ukraina
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top