Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wabah PMK Pada Ternak Ancam Ekspor Produk Olahan

Ada potensi produk-produk turunan dari daging dan susu yang digunakan terutama lokal untuk pangan olahan yang diekspor ditolak oleh negara-negara yang sudah bebas PMK
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 12 Mei 2022  |  19:28 WIB
Ternak sapi liar melintas di Jalan Lintas Banda Aceh-Tapak Tuan Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya, Aceh. Antara - Syifa Yulinnas
Ternak sapi liar melintas di Jalan Lintas Banda Aceh-Tapak Tuan Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya, Aceh. Antara - Syifa Yulinnas

Bisnis.com, JAKARTA – Pakar pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menyampaikan bahwa munculnya kembali wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) berpotensi mengancam kegiatan ekspor.

Ekspor dalam hal ini yang dia maksud adalah produk-produk turunan dari daging dan susu terutama yang berasal dari lokal berpotensi terjadi penolakan oleh negara importir. 

“Secara nasional akan ada dampaknya. Ada potensi produk-produk turunan dari daging dan susu yang digunakan terutama lokal untuk pangan olahan yang diekspor ada potensi ditolak oleh negara-negara yang sudah bebas PMK,” jelas Khudori, Kamis (12/5/2022). 

Khudori menambahkan, negara-negara importir pasti akan berhati-hati dan berpikir sekian kali untuk memasukkan produk termasuk turunan yang dikhawatirkan tercemar. Terlebih lagi produk pertanian juga akan ikut berpotensi ditolak. 

Terlebih, Jawa Timur menjadi provinsi dengan populasi sapi terbesar, yaitu sebanyak 4,9 juta ekor dari total populasi (18 jtua ekor) di Indonesia atau sekitar 27 persen. Pasokan sapi pun akan terbatas bagi wilayah yang menggantungkan pasokan daging dari Jawa Timur. 

“Kalaupun bukan penolakan, negara importir akan meminta diskon, minta dimurahin harganya,” lanjut Khudori. 

Wabah PMK ini dapat menyebar dan bergerak dalam radius 200-250 kmi. Khudori tidak heran jika virus sudah menyebar karena tingkat penularannya sebesar 90 hingga 100 persen. Agen penularnya pun dapat dari semua barang apapun yang bersentuhan dengan ternak. 

Pemerintah selagi menunggu datangnya vaksin dari luar negeri terus melakukan intervensi dengan memberikan obat, penyuntikan vitamin, pemberian antibiotik dan penguatan imun. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan dari pemberian obat dan vitamin yang dilakukan, maka banyak hewan yang terpapar PMK sudah mulai membaik. Contohnya, hewan yang lesu akibat virus mulai segar dan yang tadinya tidak bisa berdiri kini sudah berangsur normal.

"Dari pengalaman beberapa hari ini di lapangan, ternyata intervensi kita dengan obat,  vitamin, dan penurun suhu ternyata hasilnya lebih baik. yang tadinya terpapar bisa berdiri, melernya banyak sekarang sudah sangat berkurang dan mulai bisa makan," kata Syahrul dalam Konferensi Pers Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku Hewan Ternak, Kamis (12/5/2022).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor daging peternakan harga daging susu peternakan sapi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top