Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Efek Lockdown China Bisa Merembet ke Rantai Pasok Global

Data PMI China menunjukkan pengiriman bahan baku ke produsen menghadapi penundaan terpanjang dalam 2 tahun terakhir.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 02 Mei 2022  |  13:00 WIB
Petugas kepolisian dengan alat pelindung diri (APD) berjaga di persimpangan jalan saat lockdown akibat Covid-19 di Shanghai, China, Senin (25/4 - 2022). Shanghai menjadi pusat wabah Covid/19 terburuk di China setelah kejadian di Wuhan beberapa tahun lalu. Sebanyak 138 Jiwa dilaporkan meninggal dunia pada gelombang kali ini. Bloomberg
Petugas kepolisian dengan alat pelindung diri (APD) berjaga di persimpangan jalan saat lockdown akibat Covid-19 di Shanghai, China, Senin (25/4 - 2022). Shanghai menjadi pusat wabah Covid/19 terburuk di China setelah kejadian di Wuhan beberapa tahun lalu. Sebanyak 138 Jiwa dilaporkan meninggal dunia pada gelombang kali ini. Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan lockdown ketat pemerintah China untuk mengendalikan infeksi virus Covid-19 mulai memunculkan dampak negatif terhadap ekonomi negara dan rantai pasok global.

Mengutip Bloomberg pada Senin (2/5/2022), efek negatif lockdown yang diberlakukan Pemerintah China pada pusat kegiatan keuangan di Shanghai serta wilayah pembuatan kendaraan bermotor di Changchun terlihat pada rilis data resmi pada akhir pekan lalu.

Data Purchasing Managers Index (PMI) China menunjukkan aktivitas manufaktur dan layanan lainnya anlok ke level terendah sejak Februari 2020 lalu. Adapun, Pada Februari 2020, pemerintah China juga memberlakukan pembatasan mobilitas yang ketat ditengah penyebaran virus corona di Wuhan.

Dampak lockdown China tidak hanya terlihat dari indikator PMI saja. Nilai mata uang yuan juga tercatat melemah setelah data-data tersebut dirilis.

Lebih lanjut, data PMI juga menunjukkan pengiriman bahan baku ke produsen menghadapi penundaan terpanjang dalam 2 tahun terakhir. Persediaan barang jadi melonjak ke level tertinggi dalam 1 dekade, sementara ekspor dan impor terlihat melemah.

Data-data tersebut dirilis sehari setelah pertemuan Politburo Partai Komunis China, yang dipimpin Presiden China, Xi Jinping berjanji akan mencapai target indikator ekonomi yang sebelumnya telah ditetapkan.

Pemerintah China juga berkomitmen untuk mempertahankan kebijakan lockdown yang diberlakukan guna mengendalikan penyebaran virus corona.

Di sisi lain, para ekonom melihat dua hal tersebut cenderung kontradiktif. Seiring dengan hal tersebut, para ekonom memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China hingga dibawah target sebesar 5,5 persen.

Zhang Zhiwei, Chief Economist Pinpoint Asset Management memprediksi pertumbuhan ekonomi China akan berbalik menjadi negatif pada kuartal II/2022.

“Isu penting ke depannya ialah bagaimana pemerintah menyeimbangkan kebijakan lockdown tersebut untuk mengurangi kerusakan ekonomi,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Di sisi lain, pernyataan Politburo tersebut memicu reli pada pasar saham dan mata uang. Saham-saham teknologi terpantau melonjak ditengah kemungkinan terjadinya pelonggaran regulasi untuk perusahaan platform internet.

Selain itu, investor juga merespon positif komentar Xi terkait pelonggaran pembatasan properti dan langkah untuk mendorong investasi pada sektor infrastruktur.

Dalam pertemuan tersebut, Xi mengatakan perkembangan sehat dari modal swasta perlu ditingkatkan. Dia juga mengingatkan perkembangan tersebut perlu diregulasi dan harus sesuai dengan tujuan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china Covid-19 Lockdown
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top