Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nikel dan Batu Bara Bergeliat, Industi Alat Berat Meningkat Pesat

Dipicu kinerja cemerlang pada kuartal pertama tahun ini, maka target produksi alat berat secara tahunan pun dikerek menjadi 9.000 hingga 10.000 unit. Angka tersebut naik dari target yang diungkap Hinabi pada akhir tahun lalu sebesar 8.000 unit.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 28 April 2022  |  13:50 WIB
Nikel dan Batu Bara Bergeliat, Industi Alat Berat Meningkat Pesat
Loading Shovels Hitachi, salah satu produk PT Hexindo Adiperkasa Tbk. (HEXA). Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) mencatat produksi pada kuartal I/2022 mencapai 2.113 unit, atau tumbuh 49,11 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 1.417 unit.

Ketua Umum Hinabi Jamaludin mengatakan meskipun kegiatan produksi belum sepenuhnya kembali normal, rekrutmen pekerja sudah membaik dibandingkan dengan tahun lalu sehingga memungkinkan pertumbuhan.

Adapun, target produksi tahun ini naik menjadi 9.000 hingga 10.000 unit. Angka tersebut naik dari target yang diungkap Hinabi pada akhir tahun lalu sebesar 8.000 unit.

Dari total angka produksi, hydraulic excavator untuk usaha pertambangan menyumbang kontribusi terbesar yakni 1.814 unit. Sisanya disumbang oleh motor grader 29 unit, bulldozer 205 unit, dan dump truck 65 unit.

"Target kami tahun ini 9.000 sampai 10.000 unit. No change [dari awal 2022]," kata Jamaludin saat dihubungi Bisnis, Kamis (28/4/2022).

Dengan kontribusi terbesar disumbang oleh hydraulic excavator, Jamaludin mengatakan pendorong pertumbuhan terbesar masih dari sektor pertambangan, terutama batu bara dan mineral seperti nikel. Selanjutnya, sektor konstruksi ke depan berpeluang tumbuh kontribusinya seiring berjalannya proyek-proyek pembangunan infrastruktur pemerintah.

Angka Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) alat berat sudah membaik di kisaran 40 persen hingga 50 persen sehingga dapat memacu partisipasi dalam proyek-proyek pemerintah.

Jamaludin mengatakan tantangan produksi pada kuartal pertama tahun ini masih berkutat pad harga material yang tinggi dan suplai yang ketat.

Impor material produksi masih menjadi tantangan bagi industri. Selain harga pengapalannya yang melambung, ketersediaan material juga terbatas. Dia mengakui bahwa permintaan alat berat sepanjang tahun lalu sangat tinggi dan pemenuhannya secara bertahap dilakukan pada tahun ini.

"Suplai material [masih terbatas] karena semua industri tumbuh," ujarnya.

Untuk diketahui, produksi alat berat sepanjang tahun lalu mencapai 6.740 unit atau tumbuh 96,67 persen dari capaian 2020 yang hanya 3.427 unit saja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alat berat batu bara Nikel hinabi untr emiten alat berat industri alat berat KOBX
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top