Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Shanghai Lockdown, Investasi Industri Plastik Jadi Prospektif

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan lockdown yang meluas di China menyurutkan pasokan plastik hilir ke pasar domestik sehingga menjadi peluang untuk industri dalam negeri berekspansi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 28 April 2022  |  00:12 WIB
Pemandangan Shanghai, China dari atas. - Bloomberg/Qilai Shen
Pemandangan Shanghai, China dari atas. - Bloomberg/Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Investasi di industri plastik terutama di sektor antara dan hilir berpeluang terdongkrak lockdown yang diberlakukan di Shanghai karena peningkatan kasus Covid-19.

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan lockdown yang meluas di China menyurutkan pasokan plastik hilir ke pasar domestik sehingga menjadi peluang untuk industri dalam negeri berekspansi.

"Shanghai lockdown, harus segera diantisipasi pasokannya oleh industri dalam negeri. Barang-barang dari China turun [pasokannya] sehingga kesempatan industri dalam negeri untuk masuk," ujarnya saat dihubungi, Rabu (27/4/2022).

Di kuartal kedua ini, Fajar mengharapkan utilitas kapasitas produksi plastik hilir dapat meningkat hingga 90 persen. Selain itu, faktor yang dapat menjadi pengungkit investasi industri plastik yakni tahun ajaran baru dengan pembelajaran tatap muka 100 persen.

Selain itu, selama Ramadan dan jelang Lebaran ini, konsumsi dari layanan pesan-antar makanan minuman terpantau tumbuh cukup signifikan. Meski demikian, Fajar mengakui arus permintaan saat ini belum sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum pandemi.

Namun, beberapa faktor tersebut diharapkan ke depan dapat membantu menopang pemulihan. Selain itu, industri plastik juga berharap limpahan pertumbuhan dari kimia dan farmasi.

"Beberapa alat kesehatan sekarang juga beralih ke plastik. Mudah-mudahan dengan semakin bagusnya pelayanan BPJS, industri kimia dan farmasi bisa konsisten mengembangkan produk-produk baru," ujarnya.

Menurut catatan Kementerian Investasi/Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), investasi di sektor kimia dan farmasi pada kuartal I/2022 melonjak 80 persen menjadi 16,9 triliun. Sementara itu, investasi di industri manufaktur tercatat sebesar 103,5 triliun, tumbuh 17,21 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp88,3 triliun.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi shanghai plastik
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top