Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Darurat Inflasi, Bank Sentral Korea Naikkan Suku Bunga di Tengah Kekosongan Jabatan Gubernur

Bank sentral Korea Selatan menaikkan suku bunga utamanya pada hari Kamis (14/4/2022) meskipun tanpa sosok Gubernur yang menjabat. Hal ini dikarenakan kondisi inflasi yang terus merangkak naik.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 14 April 2022  |  09:47 WIB
Pejalan kaki menyeberang di jalan menuju pintu masuk ke museum Bank of Korea (BOK) yang terdapat di tengah kompleks kantor pusat Bank of Korea di Seoul, Korea Selatan. - Bloomberg/Jean Chung
Pejalan kaki menyeberang di jalan menuju pintu masuk ke museum Bank of Korea (BOK) yang terdapat di tengah kompleks kantor pusat Bank of Korea di Seoul, Korea Selatan. - Bloomberg/Jean Chung

Bisnis.com, JAKARTA - Bank of Korea (BOK) menaikkan suku bunga utamanya pada hari Kamis (14/4/2022). Kebijakan ini menepis kekhawatiran tentang kekosongan kepemimpinan dan risiko global terhadap ekonomi Korea Selatan karena dewan gubernur fokus pada melanjutkan perjuangannya melawan peningkatan inflasi.

Bank sentral Korea Selatan menambah gelombang pengetatan suku bunga global dengan meningkatkan tingkat suku bunga pembelian kembali tujuh hari sebesar 25 basis poin menjadi 1,5 persen dalam keputusan pertama dewan tanpa adanya gubernur.

Sejauh ini, sekitar 11 ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan kenaikan tersebut, sementara 10 ekonom memperkirakan kebijakan akan tetap tidak berubah.

Kenaikan suku bunga menyoroti rasa urgensi di antara pembuat kebijakan untuk mengatasi inflasi setelah bank pekan lalu memperingatkan kemungkinan inflasi akan tetap dalam kisaran 4 persen di masa mendatang.

Calon gubernur baru Bank of Korea Rhee Chang-yong telah menjelaskan bahwa dia melihat inflasi sebagai kekhawatiran yang mendesak menjelang sidang konfirmasi parlemen pada 19 April 2022.

"Inflasi lebih penting daripada faktor non-ekonomi seperti tidak adanya gubernur," kata Ekonom di JP Morgan Park Seok-gil. "Setelah jeda di bulan Februari, ada tekanan yang meningkatkan kebutuhan untuk kenaikan April dengan inflasi diperkirakan akan melampaui perkiraan."

Ho Woei Chen, ekonom di United Overseas Bank Ltd. di Singapura menilai inflasi jelas merupakan perhatian utama yang perlu ditangani oleh kebijakan moneter.

"Saya pikir mereka akan terus memperketat kebijakan moneter dalam dua hingga tiga kuartal ke depan,” ungkap Ho. “Saya pikir Rhee mungkin tidak terlalu berbeda jauh dari Lee dalam penanganan kebijakan moneter pada saat ini meskipun ia mungkin dianggap kurang hawkish,” tambah Ho.

BOK telah menaikkan suku tiga kali antara Agustus dan Januari untuk mengatasi melonjaknya harga aset dan inflasi, sebelum akhir masa jabatan Gubernur Lee Ju-yeol pada Februari 2022.

Rhee akan menjalani sidang parlemen pada 19 April 2022 dan pengangkatannya secara luas diperkirakan akan segera dikonfirmasi. Dia kemungkinan akan melanjutkan dorongan menuju normalisasi karena dia telah menjelaskan bahwa dia melihat inflasi sebagai masalah yang mendesak. Pertemuan kebijakan BOK berikutnya dijadwalkan pada 26 Mei 2022.

Bank-bank sentral di seluruh dunia sedang berjuang untuk mendinginkan harga konsumen yang dipicu oleh stimulus era pandemi dan diperburuk oleh invasi Rusia ke Ukraina.

Singapura juga mengambil tindakan serupa pada Kamis ini (14/4/2022). Monetary Authority of Singapore (MAS) menggunakan langkah ganda agresif untuk memperketat kebijakan yang berfokus pada mata uang untuk pertama kalinya sejak 2010.

Bank of Canada dan Reserve Bank of New Zealand membebani dengan kenaikan setengah poin jumbo pada hari Rabu (14/4/2022).

Sementara itu, pembuat kebijakan di Federal Reserve telah mengisyaratkan bahwa mereka dapat mengambil langkah setengah poin jika diperlukan, dimulai ketika mereka bertemu berikutnya pada awal Mei.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi suku bunga acuan bank of korea

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top