Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Meneropong Bisnis Pelita Air di Segmen Layanan Medium

Pelita Air Service memutuskan masuk dalam bisnis penerbangan reguler, mengincar pasar LCC serta berpeluang menggarap slot yang ditinggalkan Garuda Indonesia.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 11 April 2022  |  17:30 WIB
Pelita Air. Wikipedia
Pelita Air. Wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA – Pelita Air Services (PAS) telah menetapkan pilihannya untuk masuk ke penerbangan berjadwal komersial dengan segmen layanan medium ketimbang ke segmen berbiaya hemat (Low Cost Carrier/LCC) atau layanan penuh (Full Services).

Lantas, sudah tepatkah opsi yang diambil maskapai yang disebut sebagai sekoci apabila PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) tenggelam dalam proses restrukturisasi tersebut?

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia Toto Pranoto menuturkan PAS akan mencoba masuk mengisi slot penerbangan domestik yang telah dilepas oleh PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA). Terutama dengan kondisi emiten berkode saham GIAA saat ini, yang banyak memangkas jumlah pesawat dan rute penerbangan. Tak hanya PAS, slot kosong GIAA bakal mendorong operator penerbangan lain untuk ambil peluang di pasar tersebut.

Toto pun menilai langkah PAS sudah tepat untuk masuk ke penerbangan berjadwal dan melebarkan bisnisnya di luar charter. Dia optimistis layanan medium yang telah dipilih PAS bisa turut menggaet pasar yang baru dengan jumlah pesawat yang masih terbatas.

“Tentu perlu adaptasi yang cepat bagi PAS masuk ke pasar regular airlines tersebut. Jadi PAS menurut saya tidak akan terburu masuk ke segmen full service. Terlebih jumlah pesawat PAS juga relatif masih terbatas,” ujarnya, Senin (11/4/2022).

Senada, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bima Yudhistira menjelaskan banyak peluang pasar di Industri penerbangan yang bisa dimasuki oleh Pelita Air Services. Dia menyebut, sebagai anak usaha Pertamina yang sudah berpengalaman, PAS bisa masuk ke sektor logistik di luar Jawa.

Kemudian, lanjutnya, dengan masuk pasar layanan medium, PAS juga memiliki keunggulan. Keunggulan tersebut adalah membuka rute-rute baru yang selama ini pasar LCC dan Full service tidak masuk. Dia berpendapat PAS bisa mulai masuk ke rute-rute di wilayah timur seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Ini jadi prospek yang cukup baik. Antar kota yang jaraknya cukup dekat. Dengan infrastruktur bandara untuk muatan kecil,” katanya.

Peluang besar lainnya adalah PAS masih bisa memanfaatkan momentum booming komoditas saat ini. PAS tetap bisa mengoperasikan dan berekspansi pesawat charter di perusahaan lain yang memiliki layanan di sektor komoditas. Pasalnya, menurut Bhima kebutuhan penerbangan jajaran direksi dan manajerial korporasi petambangan masih tinggi. Terutama karena kontrak layanan yang bersifat jangka panjang.

Supaya lebih kompetitif di segmen ini, PAS dituntut untuk menyediakan layanan yang lebih baik hingga lebih banyak membuka rute dan frekuensi penerbangan.

“Memang Jangan masuk ke LCC persaingannya sudah berdarah-darah dan ketat. Lebih baik memang masuk ke medium dengan segmentasi tadi. Juga jangan masuk Full service karena segmen ini untuk kembali beroperasi normal butuh waktu lama,” terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN Garuda Indonesia low cost carrier Pelita Air
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top