Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kapal Pertamina Diblokade Setelah Beli Minyak Rusia, Pengamat: Harus Dijadikan Pelajaran

Blokade ini menjadi pelajaran bahwa jangan sampai Pertamina mengimpor BBM dari negara yang berkonflik, karena akan menyebabkan keterlambatan pengiriman dan hambatan lain, termasuk reaksi dunia internasional yang akan berpengaruh pada cost
Faustina Prima Martha
Faustina Prima Martha - Bisnis.com 04 April 2022  |  14:31 WIB
Kapal Pertamina Diblokade Setelah Beli Minyak Rusia, Pengamat: Harus Dijadikan Pelajaran
Kapal pengangkut minyak Pertamina Prime. / Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kapal Pertamina Prime milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang sempat dicegat aktivis Greenpeace di lepas pantai Denmark, Kamis pekan lalu (31/03/2022), telah kembali berlayar.

Berdasarkan pantauan Bisnis dari situs vesselfinder.com, kapal tanker tersebut kini telah berlayar dengan kecepatan 15,6m/s dan berada di 97,6km di lepas pantai Amsterdam, Belanda atau 61,8m di lepas pantai Norwich, Inggris.

Kapal Pertamina Prime adalah kapal kedua PT Pertamina International Shipping yang pembangunannya dimulai sejak 2019. Kapal ini merupakan kapal single screw driven single deck type crude oil tanker dengan panjang 330 meter dan draft 21.55 meter.

Tanker Pertamina Prime adalah salah satu kapal yang dicegat Greenpeace pada Kamis pekan lalu. Selain Pertamina Prime, aktivis lingkungan tersebut juga mencegat tanker Seaoath yang tiba dari Rusia.

Dilansir dari situs resmi Greenpeace, Seaoath membawa minyak sebesar 100 ribu ton asal Rusia. Greenpeace memblokade Seaoath dan Pertamina Prime karena akan melakukan transfer minyak asal Rusia tersebut.

Kepala Greenpeace Denmark, Sune Scheller, mengungkapkan alasannya memblokade kapal tersebut untuk mencegah masuknya uang ke Rusia melalui penjualan bahan bakar fosil.

“Jelas bahwa bahan bakar fosil dan uang yang mengalir ke dalamnya [ke Rusia] adalah akar penyebab krisis iklim, konflik, dan perang, yang menyebabkan penderitaan besar bagi orang-orang di seluruh dunia. Pemerintah seharusnya tidak memiliki alasan mengapa mereka terus membuang uang ke bahan bakar fosil yang menguntungkan segelintir orang dan memicu perang, sekarang di Ukraina. Jika kita ingin berdiri untuk perdamaian, kita harus mengakhiri ini dan segera keluar dari minyak dan gas,” papar Scheller dilansir dari situs resmi Greenpeace, Senin (04/04/2022).

Menurut Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi, Pertamina seharusnya menyediakan buffer stock, sebagai cadangan untuk mencegah kelangkaan BBM jenis Pertalite. Untuk memperoleh buffer stock tersebut, menurut Fahmy, Pertamina perlu menambah impor BBM dari berbagai negara. Akan tetapi, kondisi geopolitik negara asal impor BBM perlu menjadi pertimbangan.

“Melihat kasus dicegatnya kapal Pertamina [oleh Greenpeace], ini harus menjadi pelajaran bahwa jangan sampai Pertamina mengimpor BBM dari negara yang berkonflik, karena akan menyebabkan keterlambatan pengiriman dan hambatan lain, termasuk reaksi dunia internasional yang akan berpengaruh pada cost,” terang Fahmy kepada Bisnis, Senin (04/04/2022).

Adapun stok Pertalite nasional hingga 27 Maret 2022 berdasarkan data Pertamina adalah 1,16 juta kilo liter (kL) sehingga dapat bertahan hingga 15,7 hari ke depan. Stok tersebut merupakan akumulasi stok pada Terminal BBM, kilang dan in-transit kapal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina greenpeace impor migas Perang Rusia Ukraina
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top