Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Dihadapi Kenaikan PPN, Dua Negara Ini Pilih Bagi-Bagi Insentif Pajak

Di tengah ketidakpastian global mulai dari inflasi dan kenaikan harga energi, Turki dan Australia memilih untuk memberikan insentif pajak dan cukai pada warganya.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 30 Maret 2022  |  11:34 WIB
Hagia Sophia di Istanbul, Turki./Antara - Pixabay
Hagia Sophia di Istanbul, Turki./Antara - Pixabay

Bisnis.com, JAKARTA - Kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 11 persen tinggal menghitung hari. Per 1 April 2022, jelang bulan suci Ramadan, masyarakat Indonesia akan merasakan tarif PPN baru.

Gelombang keberatan muncul dari berbagai pihak, mengingat penyesuaian dilakukan bertepatan dengan kenaikan harga berbagai bahan pangan dan BBM.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan kenaikan tarif PPN tidak dapat ditunda lantaran pemerintah akan menggunakannya untuk masyarakat dan ekonomi Indonesia. Untuk itu, perlu disiapkan fondasi yaitu melalui penguatan rezim pajak.

Yang menarik, di tengah pemulihan ekonomi global, sejumlah negara justru memberikan insentif pemotongan pajak. Di Turki, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mengumumkan pemotongan pajak pertambahan nilai (PPN) pada beberapa produk untuk memerangi inflasi.

Pemotongan PPN mencakup sebagian besar kebutuhan, seperti produk kebersihan dan peralatan medis, kata Erdogan pada konferensi pers setelah rapat kabinet.

"Kami telah memutuskan untuk mengurangi PPN atas produk-produk seperti deterjen, sabun, tisu toilet, serbet dan popok bayi dari 18 persen menjadi 8 persen," ujar Erdogan, dikutip dari Xinhua.

Pemerintah juga akan mengurangi beban keuangan industri konstruksi dengan memotong PPN atas tanah menjadi 8 persen, tambahnya

Di sektor pertanian, Turki akan mengurangi PPN hingga 1 persen pada semua jenis benih bersertifikat, pengiriman bibit dan anakan, dan hingga 8 persen untuk beberapa produk seperti tangki pengumpul susu.

Inflasi negara itu melonjak menjadi 54,4 persen pada Februari, tertinggi dalam hampir 20 tahun. Di bawah tekanan kenaikan harga, pemerintah pada Februari menurunkan PPN atas produk makanan pokok dari 8 persen menjadi 1 persen.

Tidak hanya itu, warga Australia akan dihujani insentif pemotongan cukai bensin dan pajak penghasilan yang dirancang untuk menurunkan biaya hidup. Mulai minggu ini, cukai bensin akan diturunkan setengahnya dari 44,2 sen per liter bensin atau solar menjadi 22,1 sen. Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar US$3 miliar.

Kemarin, Selasa (30/3/2022), Menteri Keuangan Josh Frydenberg mengungkapkan pengurangan pajak pendapatan rendah dan menengah akan ditingkatkan tahun ini sebesar US$420 menjadi pengembalian pajak maksimum US$$1.500 untuk individu.

Dikutip dari The Guardian, Frydenberg menegaskan bahwa cukai bensin akan dikurangi setengahnya selama enam bulan. Langkah-langkah tersebut dirancang untuk mengimbangi kenaikan biaya hidup, dengan lonjakan inflasi yang mencapai 3,5 persen pada 2021 dan harga bensin naik sebanyak US$2,20 per liter karena invasi Rusia ke Ukraina.

Kebijakan pengembalian pajak tersebut menguntungkan 10 juta orang yang berpenghasilan hingga US$126.000, karena semuanya mendapatkan tambahan US$420 kecuali mereka yang berpenghasilan kurang dari US$25.000 yang tidak memerlukan offset penuh untuk mengurangi kewajiban pajak mereka menjadi nol.

Sekitar 4,8 juta warga Australia yang berpenghasilan antara US$48.000 dan US$90.000 akan menerima pengembalian pajak maksimum sebesar US$1.500.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

turki australia ppn
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top