Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kadin Ungkap Investasi Anyar pada Industri Hulu Tekstil Tertahan Akibat Perang Rusia-Ukraina

Minat investasi pada sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) belakangan muncul setelah pemerintah memberlakukan kebijakan pengenaan bea masuk tindak pengamanan (BMTP) atau safeguard pada produk pakaian dan aksesoris pada November 2021 lalu.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 28 Maret 2022  |  20:42 WIB
Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil.  - Reuters
Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) melaporkan sejumlah pelaku usaha belakangan meninjau ulang rencana mereka untuk berinvestasi atau ekspansi pada sektor hulu industri tekstil dan produk tekstil (TPT) setelah Perang Rusia-Ukraina pecah pada Februari 2022 lalu.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Bobby Gafur Umar menuturkan sejumlah pelaku usaha sempat menyatakan minatnya untuk melakukan investasi pada sektor hulu industri TPT pada awal tahun ini. Hanya saja, Bobby mengatakan, minat itu mesti ditinjau ulang lantaran situasi global yang berubah setelah terjadinya konflik di kawasan Eropa Timur yang belakangan menjadi katalis krisis energi dan bahan baku global.

“Yang hitung-hitung sudah ada kita waktu itu sempat bicara di awal tahun mereka optimis tapi karena ada perkembangan global mereka mesti berhitung ulang terkait rencana itu,” kata Bobby melalui sambungan telepon, Senin (28/3/2022).

Menurut Bobby, minat investasi pada sektor TPT itu belakangan muncul setelah pemerintah memberlakukan kebijakan pengenaan bea masuk tindak pengamanan (BMTP) atau safeguard pada produk pakaian dan aksesoris pada November 2021 lalu. Dengan demikian, pemerintah menjamin adanya kepastian pasar bagi industri hulu TPT domestik ke depan.

“Sampai sekarang ini memang belum ada yang final, kecuali keramik sudah ada rencana investasi tambahan dari hulu, tekstil belum karena kemarin marketnya digempur barang impor orang jadi ragu untuk investasi atau ekspansi,” tuturnya.

Berdasarkan catatan Kadin, 95 persen pasokan purified terephthalic acid (PTA) sudah dapat diproduksi di dalam negeri. Sementara itu bahan baku lainnya untuk polyester Methyl Ethylene Glycol (MEG) 75 persen masih tergantung dari produk impor.

Kendati demikian, industri TPT domestik dipastikan mesti meningkatkan impor PTA pada tahun ini lantaran terganggunya kinerja PT Mitsubishi Chemical Indonesia akibat mengalami kebakaran pada Februari 2022. Adapun kinerja PT Mitsubishi Chemical Indonesia disebutkan belum kembali normal akibat insiden tersebut. Dari sisi produksi, PT Mitsubishi Chemical Indonesia mengambil 30 persen dari pangsa pasar PTA dalam negeri.

Seperti diberitakan sebelumnya, impor serat dan benang untuk industri tekstil hilir dalam negeri diproyeksikan bakal meningkat cukup tajam di tengah momentum pemulihan daya beli masyarakat pada tahun ini. Alasannya, pasokan bahan baku utama seperti purified terephthalic acid (PTA) dari dalam negeri mengalami penurunan yang signifikan pada awal tahun ini.

“Produsen PTA di dalam negeri hanya ada dua industri saja salah satunya adalah Mitsubishi Chemical yang kemarin kebakaran, saat ini menurut informasi belum bisa normal beroperasi kembali ini menyebabkan pasokan PTA terganggu,” kata Direktur Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Elis Masitoh melalui pesan WhatsApp, Senin (28/3/2022).

Adapun PTA menjadi bahan baku utama pembuatan produk-produk tekstil seperti polyester dan polietilena terephthalate (PET). Nantinya, produk turunan PTA itu akan dijadikan bahan baku pembuatan benang dan serat fiber yang berguna bagi industri hilir tekstil.

Elis mengatakan turunnya pasokan PTA dalam negeri pada tahun ini berpotensi untuk mengurangi produksi filamen dan fiber untuk kebutuhan hilir.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi industri kadin tekstil Perang Rusia Ukraina
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top