Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Kerek Ongkos Produksi, Insentif Biaya Energi untuk Industri Tekstil Dibutuhkan

Industri bakal tertekan akibat ongkos produksi yang naik sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih akibat reli kenaikan harga bahan kebutuhan pokok atau Bapok sejak akhir tahun lalu.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 28 Maret 2022  |  19:31 WIB
Proses texturizing di fasilitas produksi PT Trisula Textile Industries Tbk. Dalam tahap ini, benang-benang filament diproses dengan temperatur dan tekanan tertentusehingga menghasilkan efek keriting, ketebalan yang elastis, dan mempunyai crimp yang tinggi. - trisulatextile.com
Proses texturizing di fasilitas produksi PT Trisula Textile Industries Tbk. Dalam tahap ini, benang-benang filament diproses dengan temperatur dan tekanan tertentusehingga menghasilkan efek keriting, ketebalan yang elastis, dan mempunyai crimp yang tinggi. - trisulatextile.com

Bisnis.com, JAKARTA — Center of Reform on Economics (Core) mengkhawatirkan naiknya ongkos produksi yang dikerek inflasi bakal menurunkan daya saing industri tekstil dalam negeri di tengah momentum pelandaian pandemi Covid-19 pada tahun ini.

Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal meminta pemerintah untuk menyiapkan kebijakan yang dapat menjaga daya saing industri tekstil domestik seiring dengan tren kenaikan energi dan bahan baku yang masih berlanjut seiring dengan momentum pemulihan perekonomian global dari pandemi.

Menurut Faisal, industri tekstil menjadi salah satu industri prioritas yang belakangan daya saingnya turun akibat persaingan dengan barang impor.

“Banyak hal yang dikhawatirkan pelaku usaha kemungkinan akan terjadi kenaikan ongkos akibat inflasi dari sisi inputnya pasar juga belum sepenuhnya pulih demand-nya belum kembali ke posisi sebelum pandemi,” kata Faisal melalui pesan suara, Senin (28/3/2022).

Dengan demikian, kata Faisal, industri bakal tertekan akibat ongkos produksi yang naik sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih akibat reli kenaikan harga bahan kebutuhan pokok atau Bapok sejak akhir tahun lalu.

“Apalagi ada persaingan dengan barang impor oleh karena itu pemerintah mesti memberikan kemudahan baik dari segi biaya energi yang lebih murah atau kebijakan perdagangannya yang mendukung daya saing industri dalam negeri,” tuturnya.

Impor serat dan benang untuk industri tekstil hilir dalam negeri diproyeksikan bakal meningkat cukup tajam di tengah momentum pemulihan daya beli masyarakat pada tahun ini. Alasannya, pasokan bahan baku utama seperti purified terephthalic acid (PTA) dari dalam negeri mengalami penurunan yang signifikan pada awal tahun ini.

“Produsen PTA di dalam negeri hanya ada dua industri saja salah satunya adalah Mitsubishi Chemical yang kemarin kebakaran, saat ini menurut informasi belum bisa normal beroperasi kembali ini menyebabkan pasokan PTA terganggu,” kata Direktur Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Elis Masitoh melalui pesan WhatsApp, Senin (28/3/2022).

Adapun PTA menjadi bahan baku utama pembuatan produk-produk tekstil seperti polyester dan polietilena terephthalate (PET). Nantinya, produk turunan PTA itu akan dijadikan bahan baku pembuatan benang dan serat fiber yang berguna bagi industri hilir tekstil.

Elis mengatakan turunnya pasokan PTA dalam negeri pada tahun ini berpotensi untuk mengurangi produksi filamen dan fiber untuk kebutuhan hilir.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor Inflasi insentif Industri Tekstil
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top