Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menteri ESDM: Indonesia Perlu Dukungan Negara Maju untuk Pacu Transisi Energi

Pemerintah Indonesia menilai negara maju yang tergabung dalam G20 beperan sebagai salah satu agen utama dalam pelaksanaan transisi energi untuk mencapai targetnet zero emissionpada tahun 2060.
Faustina Prima Martha
Faustina Prima Martha - Bisnis.com 25 Maret 2022  |  10:25 WIB
Menteri ESDM Arifin Tasrif. Bisnis - Abdullah Azzam
Menteri ESDM Arifin Tasrif. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Sebagai tuan rumah pelaksanaan konferensi G20 tahun ini, Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendorong negara-negara anggota G20 untuk berkolaborasi dalam melakukan transisi energi.

Selain itu, pemerintah Indonesia menilai negara maju yang tergabung dalam G20 beperan sebagai salah satu agen utama dalam pelaksanaan transisi energi untuk mencapai target net zero emission pada tahun 2060.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif menyebutkan tiga poin utama yang dibawa pemerintah dalam pembicaraan tingkat tinggi G20 dari sisi transisi energi nanti adalah akses, teknologi serta pendanaan dalam transisi energi. Oleh karena itu, negara-negara maju perlu terlibat dalam pembahasan utama tersebut.

Arifin menegaskan transisi energi merupakan tanggung jawab bersama, termasuk negara-negara maju.

“Kita perlu bekerja dalam upaya bersama di antara 20 pemerintah untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan potensi dan kemampuan yang kita miliki. Dengan bekerja sama, kita dapat berinovasi lebih cepat, menciptakan skala ekonomi, dan memperkuat insentif untuk investasi,” tegas Arifin dalam konferensi pers Energy Transitions Working Group (ETWG-1), Kamis (24/03/2022).

Menurut Arifin, kontribusi negara-negara G20 diharapkan menjadi stimulus untuk percepatan implementasi transisi energi. Apalagi G20 telah memberikan kontribusi perekonomian dunia sebesar.

“Saya yakin negara-negara G20 telah menerapkan transisi energi untuk mencapai NZE sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara situasi ekonomi, sosial dan energi serta kemampuan teknologi, mulai dari tahun 2050 hingga 2070,” sambung Arifin.

Penyelenggaraan forum ETWG diharapkan dapat menemukan terobosan-teroban inovatif dalam hal teknologi dan pembiayaan.

Arifin mencatat, transisi energi harus disesuaikan dengan kondisi dan target capaian di setiap negara.

“Ini bukan tugas yang mudah. Beberapa dari kita telah merasakan manfaat transisi energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Namun, ada juga negara lain, termasuk Indonesia, yang membutuhkan terobosan kebijakan, dukungan finansial, dan kemitraan teknologi untuk mempercepat transisi energi,” papar Arifin.

Prahoro Yulijanto, Co-Chair ETWG, menjelaskan jika proses transisi energi berjalan lancar, diharapkan dapat memudahkan seluruh negara termasuk Indonesia mencapai net zero emission sekaligus mencapai target pemulihan ekonomi global.

“Ini akan menjadi konsensus bersama jika semua negara terlibat. Apalagi peran Indonesia sangat penting mengingat tiga tahun ke depan yang menjadi tuan rumah G20 adalah negara-negara berkembang,” urai Prahoro.

Salah satu keunikan dari tema Presidensi G20 Indonesia adalah mengangkat permasalahan-permasalahan negara kepulauan.

“Ini mewakili persoalan negara-negara kepulauan dan menjadi pintu masuk bagi kita bagaimana mendukung pencapaian net zero emission dan perubahan iklim secara global,” pungkas Prahoro. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian esdm Transisi energi
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top