Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rekomendasi Lartas Impor Kedelai, Pakar Pertanian : Tidak Beri Kepastian Harga ke Petani

Rencanannya, Kementan akan memperluas luas tanam kedelai dalam negeri mencapai 600.000 hektare selama April hingga Oktober 2022. Targetnya, produksi kedelai dalam negeri hingga akhir tahun dapat bertambah hingga 900.000 ribu ton.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 24 Maret 2022  |  11:52 WIB
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor yang kini harganya naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.300 per kilogram di sentra perajin tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Selasa (11/1/2022). ANTARA FOTO - Ari Bowo Sucipto
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor yang kini harganya naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.300 per kilogram di sentra perajin tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Selasa (11/1/2022). ANTARA FOTO - Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA — Pakar pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai negatif ihwal larangan terbatas atau Lartas impor kedelai yang diajukan Kementerian Pertanian (Kementan) pada tahun ini. Khudori menilai kebijakan itu tidak dapat menjamin kepastian harga untuk petani kedelai.

“Harus ada tata niaga dalam negeri untuk kedelai petani lokal itu dijamin mereka yang mau usaha kedelai itu pasti untung dengan syarat tentu saja,” kata Khudori melalui sambungan telepon, Rabu (23/3/2022).

Khudori menerangkan pemerintah mesti memastikan harga jual kedelai dari petani tetap stabil di harga yang wajar agar dapat bersaing dengan komoditas pangan lainnya. Alasannya, petani belakangan lebih memilih untuk menanam komoditas lain seperti padi dan jagung yang penghasilannya lebih tinggi ketimbang kedelai.

“Jadi ada penetapan harga untuk kedelai petani, di masa orde baru kedelai dipatok dengan harga 1,5 kali dari harga gabah makanya di tahun 90-an kita swasembada kedelai,” kata dia.

Selain intervensi harga di tingkat petani, dia menambahkan, pemerintah mesti mengatur harga kedelai impor lewat skema pemberlakuan kuota dan tarif untuk menjamin harga domestik tetap kompetitif.

“Harus ada kebijakan harga kedelai impor itu dengan kuota dan tarif yang juga melibatkan BUMN jadi tidak sepenuhnya diserahkan kepada swasta seperti sekarang ini,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan dirinya sudah mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk menerapkan larangan terbatas (Lartas) untuk importasi kedelai pada tahun ini. Syahrul beralasan impor kedelai yang sudah berlangsung selama 15 tahun itu terbukti menekan produktivitas petani di dalam negeri.

“Sekali-kali kita injak juga kakinya itu importir sudah 15 tahun mereka impor melulu kalau kita lihat di data semenjak IMF menetapkan itu maka importasinya itu cukup besar, sangat besar dan tidak ada lartasnya, saya sampaikan ke Presiden harus ada lartas,” kata Syahrul saat rapat kerja bersama dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta, Selasa (22/3/2022).

Menurut Syahrul, ketergantungan impor selama 15 tahun terakhir telah memaksa petani untuk beralih dari menanam kedelai ke komoditas lain yang lebih kompetitif seperti jagung. Konsekuensinya, lahan tanam kedelai setiap tahunnya dan beralih ke komoditas lain.

Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, stok awal kedelai 2022 mencapai 190.970 ton sementara produksi bulanan di dalam negeri sekitar 70.742 ton. Adapun, realisasi impor pada Januari 2022 sudah mencapai 321.994 ton sementara rencana impor akan dilanjutkan sebanyak 735.845 ton hingga akhir Mei 2022.

Adapun, kebutuhan kedelai selama Januari hingga Mei 2022 diproyeksikan sebanyak 1,17 juta ton dengan asumsi kebutuhan bulanan sekitar 235.449 ton. Dengan demikian, stok akhir Mei 2022 diperkirakan mencapai 142.307 ton.

Rencanannya, Kementan akan memperluas luas tanam kedelai dalam negeri mencapai 600.000 hektare selama April hingga Oktober 2022. Targetnya, produksi kedelai dalam negeri hingga akhir tahun dapat bertambah hingga 900.000 ribu ton.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai kementan syahrul yasin limpo
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top