Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produktivitas Tambak Udang Rendah, Begini Upaya Menggenjotnya

Produktivitas tambak udang di Indonesia masih sangat rendah di angka 0,6 ton per hektare.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 19 Maret 2022  |  02:12 WIB
Kincir angin tambak udang.  - Solopos
Kincir angin tambak udang. - Solopos

Bisnis.com, SUMBAWA - Di lahan seluas 528 hektare di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), pemerintah berencana membangun kawasan tambak terintegrasi dengan tingkat target produktivitas sebesar 40 ton per hektare.

Proyek percontohan tersebut diharapkan jadi pintu pembuka upaya modernisasi 247.803 hektar tambang udang budi daya di seluruh Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengakui bahwa produktivitas tambak udang di Indonesia masih sangat rendah di angka 0,6 ton per hektare. Pasalnya, sebagian besar budi daya udang masih menggunakan sistem tradisional tanpa tandon, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan pembibitan yang memadai.

Selain di Sumbawa, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga membangun proyek serupa di Aceh dan Sulawesi Tenggara dengan total luas lahan sekitar 1.500 hektar. Dalam jangka menengah Sakti membidik 5.000 hektar tambak modern dapat dikembangkan.

Di luar itu, ada pula proyek revitalisasi tambak rakyat di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara dan Kota Baru, Sulawesi Tengah. Sama halnya dengan pengembangan tambak udang berbasis kawasan, prgram revitalisasi ini juga merupakan percontohan untuk membidik total lahan 140.000 hektar tambak rakyat.

Dari 0,6 ton per hektar, revitalisasi akan meningkatkan produktivitas tambak rakyat menjadi lima hingga 10 ton per hektar.

"Sekarang pemerintah instal investasi di satu daerah dimana lahannya milik masyarakat dan masyarakat berpartisipasi untuk meningkatkan pendapatannya," kata Sakti di Sumbawa, NTB, Jumat (18/3/2022).

Dalam jangka pendek, targetnya adalah melipatgandakan nilai ekspor udang menjadi US$4 miliar pada 2024 dengan volume 2 juta ton.

Dia melanjutkan, udang merupakan komoditas ekspor nomor dua di dunia dengan pasar sekitar US$27 miliar. Indonesia sebagai negara maritim hanya menempati posisi kelima sebagai eksportir udang, masih kalah dibandingkan dengan Ekuador, Vietnam, dan India.

Sakti berangan-angan, jika total tambak udang di Indonesia yang seluas 247.803 hektar dapat menghasilkan produktivitas maksimum 40 ton per hektar, peringkat pertama eksportir udang sudah akan di tangan.

Sayangnya, tidak seperti membalikkan telapak tangan, modernisasi tambak-tambak rakyat dengan sistem budi daya tradisional membutuhkan investasi yang besar.

Dalam tiga proyek percontohan ini saja, pemerintah merogoh kocek total US$500 juta. Sakti berharap proyek percontohan ini akan merangsang masuknya modal swasta ke tambak-tambak rakyat.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu menambahkan pihaknya telah mengantongi sejumlah komitmen dan wacana investasi pada pengembangan tambak udang budi daya. Pabrikan pakan hingga start-up perikanan bakal meramaikan investasi revitalisasi tambak rakyat.

"Kami mengundang swasta. Kalau konsep dan teknologi sudah ada, selanjutnya bagaimana kami bersinergi dengan Pemda dan dengan masyarakat," kata Haeru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tambak udang udang kementerian kelautan dan perikanan
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top