Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SoftBank Batal Investasi di IKN, APBN Berpotensi Tanggung Konsekuensinya

Ada potensi gangguan terhadap kecepatan pembangunan Ibu Kota Baru karena rencana investasi dari SoftBank bernilai sangat besar.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 13 Maret 2022  |  12:47 WIB
SoftBank Batal Investasi di IKN, APBN Berpotensi Tanggung Konsekuensinya
CEO SoftBank Group Masayoshi Son dalam sebuah jumpa pers di Tokyo, Rabu (6/2/2019) - Bloomberg/Kiyoshi Ota
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Center of Economic and Law Studies atau Celios menilai batalnya investasi SoftBank Group di proyek ibu kota negara atau IKN akan membawa konsekuensi besar bagi Indonesia, baik terhadap APBN maupun manuver sosial politik.

Ekonom dan Direktur Celios Bhima Yudhistira menilai bahwa terdapat dua konsekuensi utama dari batalnya investasi SoftBank ke proyek IKN. Pertama, adanya potensi gangguan terhadap kecepatan pembangunan IKN karena rencana investasi dari SoftBank bernilai sangat besar.

SoftBank sempat menjanjikan investasi US$30-40 miliar atau berkisar Rp430—575 triliun (dengan asumsi kurs Rp14.000). Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sempat mengklaim bahwa SoftBank berminat menyuntikkan dana US$100 miliar atau sekitar Rp1.430 triliun untuk proyek IKN.

Imbasnya, menurut Bhima, jika pemerintah ingin mengejar pembangunan IKN yang tepat waktu maka investasi awal proyek itu atau berkisar 80 persen-90 persen harus berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Hal tersebut akan membebani keuangan negara dalam kondisi pemulihan dari pandemi Covid-19.

"Di tengah target menurunkan defisit dibawah 3 persen pada 2023 maka pemerintah akan mengandalkan keuntungan penerimaan dari komoditas dan menambah pembiayaan utang baru," ujar Bhima pada Minggu (13/3/2022).

Konsekuensi kedua adalah pemerintah perlu mencari pengganti Softbank, entah lembaga investasi hedge fund maupun sovereign wealth fund (SWF) dari negara mitra, seperti Arab Saudi. Sayangnya, Bhima menilai bahwa mencari investor sekelas SoftBank bukan perkara mudah, apalagi pemerintah ingin proses pembangunan IKN segera berjalan.

"Butuh proses uji kelayakan, pembacaan situasi ekonomi, dan hitung-hitungan manfaat sosial-politik bagi investor," ujarnya.

Bhima menilai bahwa ketidakpastian menjadi faktor besar yang menyebabkan batalnya investasi SoftBank di IKN. Dia menyebut secara langsung risiko politik dari wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode atau penundaan pemilihan umum membuat iklim investasi menjadi buruk.

"Kegaduhan belakangan soal perpanjangan masa jabatan presiden membuat investor memilih wait and see. Investasi di IKN bukan jangka pendek, tapi butuh kepastian jangka panjang. Dikhawatirkan risiko politik terkait pemilu akan membuat proyek IKN terkendala, bahkan bisa berhenti total," ujarnya.

Kondisi ekonomi pun, menurut Bhima, turut memengaruhi keputusan SoftBank dalam membatalkan investasi. Naiknya suku bunga di berbagai negara turut meningkatkan biaya dana (cost of fund), khususnya bagi investor yang memiliki rasio utang tinggi.

Investor membaca risiko inflasi yang tinggi di negara-negara maju akan membuat biaya pembangunan IKN naik signifikan. Biaya besi baja dan barang material konstruksi lainnya akan mengalami kenaikan, imbas dari terganggunya rantai pasok global.

"Hal ini pernah terjadi saat pembangunan ibu kota negara di Putrajaya, Malaysia saat krisis moneter 1998, membuat biaya pembangunan naik signifikan," ujarnya.

Bhima pun menilai bahwa serangan Rusia ke Ukraina menambah deretan ketidakpastian global. Investor sekelas SoftBank tentu akan lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan di tengah kondisi seperti saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

softbank luhut binsar pandjaitan IKN
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top