Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

JPMorgan Peringatkan Ekonomi Rusia Bisa Jatuh Lampaui Krisis Rubel 1998

JPMorgan Chase & Co memperkirakan kontraksi 7 persen dalam produk domestik bruto (PDB) Rusia tahun ini, sementara Bloomberg Economics memperkirakan penurunan sekitar 9 persen.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 04 Maret 2022  |  21:07 WIB
Sebuah bangunan tempat tinggal yang dihancurkan oleh misil Rusia di kota Irpin, di wilayah Kyiv, Ukraina - Aljazeera/ Reuters.
Sebuah bangunan tempat tinggal yang dihancurkan oleh misil Rusia di kota Irpin, di wilayah Kyiv, Ukraina - Aljazeera/ Reuters.

Bisnis.com, JAKARTA – Rusia berpotensi mengalami keruntuhan ekonomi akibat menyerang Ukraina. Krisis ekonomi ini disebut akan menyaingi bahkan melampaui kemerosotan krisis finansial Rusia pada 1998 yang dikenal dengan krisis rubel. 

Mengutip Bloomberg, Jumat (4/3/2022), potensi kejatuhan ekononomi Rusia ini berdasarkan penilaian JPMorgan Chase & Co, seiring kecaman dunia terhadap serangan tembakan militer Rusia ke pembangkit nuklir Zaporizhzhia Ukraina.

Ekonom JPMorgan Chase & Co. mengatakan kepada klien dalam sebuah laporan pada Jumat bahwa mereka memperkirakan kontraksi 7 persen dalam produk domestik bruto (PDB) Rusia tahun ini, sementara Bloomberg Economics memperkirakan penurunan sekitar 9 persen.

Sebagai konteks, ekonomi Rusia tercatat menyusut 5,3 persen pada 1998 di tengah krisis utang.

Ekonomi Rusia bakal terguncang setelah banyak negara menjatuhkan sanksi pada perdagangan, keuangan dan perjalanan, serta membekukan cadangan bank sentralnya dan memotong transaksi banyak banknya dari sistem global SWIFT.

Rusia telah berusaha untuk melindungi ekonomi dan pasarnya dengan kendali modal, penggandaan suku bunga dan tindakan darurat lainnya, yang semuanya akan mengganggu pertumbuhan.

"Sanksi merusak dua pilar yang mempromosikan stabilitas yakni 'benteng' cadangan mata uang asing bank sentral dan surplus transaksi berjalan Rusia," kata ekonom JPMorgan, yang dipimpin oleh Bruce Kasman, dalam laporan mereka.

Menurutnya, sanksi oleh banyak negara akan berdampak pada ekonomi Rusia, yang sekarang terlihat menuju resesi yang dalam.

Namun, sekalipun investor percaya dampak geopolitik invasi Rusia lebih besar dari apa yang disaksikan pada tahun 1998, dalam jangka pendek penurunan rubel telah terbukti lebih kecil. Di sisi lain, Rusia dinilai memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mencegah default pada utangnya, terutama jika negara lain terus menolak pengenaan sanksi atas ekspor energinya.

"Ini adalah jangka panjang yang lebih meresahkan. Semakin lama sanksi ditegakkan, dan terutama jika sanksi itu diperluas untuk mencakup ekspor gas dan minyak, semakin besar kemungkinan Rusia menjadi pasar modal yang tak tersentuh untuk tahun-tahun mendatang,” kata Tim Graf, kepala strategi makro EMEA di State Street Global Markets

Menurutnya, pelemahan mata uang yang terjadi sekarang pasti akan menjadi inflasi, terutama jika ekonomi Rusia tetap tertutup dari seluruh dunia. “Tidak sulit membayangkan skenario ekstrem yang serupa dengan periode pasca 1998 dalam kasus ini,” ujarnya.

Pendapatan minyak dan gas telah memberikan dukungan untuk Rusia karena penjualan dan transportasi energi terhindar dari sanksi. Pasalnya Amerika dan negara lain lain khawatir batasan-batasan di sektor energi pada akhirnya akan lebih merugikan ekonomi mereka. Rusia mengalami surplus neraca berjalan bulanan sekitar US$20 miliar pada awal tahun ini.

Bloomberg Economics memperhitungkan pemblokiran ekspor minyak dan gas akan sangat berdampak pada ekonomi Rusia dengan potensi kontraksi sekitar 14 persen tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

krisis ekonomi jp morgan Perang Rusia Ukraina

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top