Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BPS Catat Inflasi Inti 2,03 Persen Tertinggi Sejak September 2020, Tanda Daya Beli Pulih?

Terkait dengan konsumsi untuk komoditas inflasi inti yang biasanya digunakan sebagai indikator untuk melihat apakah konsumsi atau daya beli masyarakat, BPS hanya menyampaikan bahwa sejauh ini konsumsi masyarakat mulai membaik.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 01 Maret 2022  |  16:31 WIB
BPS Catat Inflasi Inti 2,03 Persen Tertinggi Sejak September 2020, Tanda Daya Beli Pulih?
Konsumen memilih barang kebutuhan di salah satu gerai supermarket Giant di Jakarta, Minggu (23/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat inflasi inti pada Februari 2022 mencapai 0,2 persen (month-to-month/mtm). Sementara secara tahunan, tercatat tingkat inflasi komponen inti mencapai 2,03 persen (year-on-year/yoy).

Deputi Bidang Statistik Distribusi  Jasa BPS Setianto menyampaikan bahwa ini merupakan angka inflasi inti tertinggi sejak September 2020, yang kala itu mengalami inflasi sebesar 1,86 persen (yoy).

Adapun komoditas dominan pendorong inflasi komponen inti ini  diantaranya adalah  sewa rumah, sabun detergen bubuk dan cair, upah asisten rumah tangga, kendaraan mobil serta emas perhiasaan.

"Komoditas-komoditas ini merupakan inti yang mengalami peningkatan," katanya dalam konferensi pers secara daring, Selasa (1/3/2022).

Terkait dengan konsumsi atau harga-harga untuk komoditas inflasi inti yang biasanya digunakan sebagai indikator untuk melihat apakah konsumsi atau daya beli masyarakat, Setianto hanya menyampaikan bahwa sejauh ini konsumsi masyarakat mulai membaik.

"Jadi kalau kita lihat kenaikan inflasi ini tentu saja permintaan terhadap komoditas-komoditas inflasi inti tersebut masih cukup tinggi," ungkapnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sebelumnya menilai laju inflasi yang meningkat pada awal tahun masih tetap terkendali pada sasaran target 2 hingga 4 persen.

Dia mengatakan, pada tahun ini masih belum terlihat adanya tanda-tanda risiko inflasi akan meningkat melebihi sasaran target BI secara fundamental.

BI memandang kenaikan harga pangan, termasuk energi, lebih bersifat jangka pendek dan tidak berdampak besar pada inflasi inti dan Indeks Harga Konsumen (IHK) secara keseluruhan.

“Karena dilihat permintaan agregat dalam ekonomi kita masih rendah dari kemampuan produksi secara nasional, sehingga dampak inflasi fundamental tidak menyebabkan inflasi IHK atau inflasi inti melebihi sasaran,” katanya dalam FGD bersama dengan Pemimpin Redaksi Media, Rabu (23/2/2022).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi daya beli
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top