Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rusia Invasi Ukraina, Ini Strategi Uni Eropa Cegah Krisis Energi

Uni Eropa mulai menyiapkan strategi untuk cegah krisis energi terkait dengan Rusia invasi Ukraina.
Faustina Prima Martha
Faustina Prima Martha - Bisnis.com 01 Maret 2022  |  14:12 WIB
Sebuah pengangkut personel lapis baja Rusia terbakar di tengah kendaraan utilitas ringan yang rusak dan ditinggalkan setelah pertempuran di Kharkiv, Ukraina - Aljazeera/AP
Sebuah pengangkut personel lapis baja Rusia terbakar di tengah kendaraan utilitas ringan yang rusak dan ditinggalkan setelah pertempuran di Kharkiv, Ukraina - Aljazeera/AP

Bisnis.com, JAKARTA - Pemimpin negara-negara Uni Eropa akan mengambil langkah serius untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor gas dari Rusia dan krisis energi setelah Presiden Putin memutuskan untuk menginvasi Ukraina.

Ketergantungan UE pada Rusia sebagai pemasok tunggal terbesar mempercepat agenda politik setelah invasi pekan lalu mengirimkan gelombang kejutan melalui pasar energi. Kontrol Rusia atas lebih dari 40 persen pengiriman ke UE memperburuk harga energi yang sudah tinggi.

Krisis energi dan invasi Ukraina, negara transit untuk gas yang mengalir ke UE, terjadi pada saat yang sangat sensitif dalam perombakan energi hijau Eropa, dengan negara-negara anggota memperdebatkan serangkaian undang-undang ambisius yang diperlukan untuk memenuhi tujuan iklim yang lebih ketat.

Reformasi telah mengarah pada pengurangan ketergantungan UE pada gas sebesar 23 persen pada akhir dekade ini, menurut cetak biru UE, yang mungkin masih berubah sebelum dipublikasikan.

“Kami mengusulkan serangkaian tindakan bersama untuk mengatasi ketergantungan kami yang berlebihan pada pasokan gas eksternal dengan membuka kunci peningkatan investasi dan reformasi untuk produksi energi yang lebih terjangkau dan berkelanjutan dan dengan mendiversifikasi pasokan lebih lanjut,” kata Komisi Uni Eropa dilansir dari Bloomberg, Selasa (1/3/2022).

Eksekutif UE berencana untuk meminta negara-negara anggota untuk mengimplementasikan paket iklim dan energi sesegera mungkin. Ini juga akan mendorong diversifikasi pemasok energi lebih lanjut dan persyaratan penyimpanan gas yang lebih ketat.

Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan Uni Eropa adalah mengadakan dialog tentang liquified natural gas (LNG), termasuk dengan importir LNG terbesar di dunia seperti, Jepang, Korea Selatan, India dan China.

Merumuskan serangkaian kebijakan praktis untuk menggerakkan investasi tambahan di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) dan menyederhanakan prosedur perizinan.

Merumuskan strategi di bulan Juni untuk mempercepat instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Mempercepat implementasi efisiensi energi.

Rekomendasi untuk memproduksi 35 juta meter kubik (MCM) biogas pada 2030. Mempercepat instalasi energi hidrogen.

Mendorong pemanfaatan cadangan gas minimum oleh para pemimpin negara Uni Eropa untuk memastikan level penyimpanan gas rata-rata minimum 80 persen hingga 30 September 2022.

Memberi arahan bagi negara-negara anggota mengenai intervensi penetapan tarif listrik untuk melindungi konsumen yang rentan. Mengamandemenkan petunjuk untuk penggunaan bantuan negata bagi perusahaan-perusahaan yang terdampak tingginya harga gas.

Merumuskan rencana peningkatan transparansi perdagangan karbon
Kebijakan tersebut memiliki tantangan berbeda bahwa tidak seperti di bidang-bidang seperti persaingan bisnis atau urusan keuangan, kebijakan energi sebagian besar berada di tangan negara-negara anggota.

Reformasi iklim yang ambisius, yang menurut Komisi sebagai solusi terbaik untuk krisis energi, juga membutuhkan dukungan dari pemerintah nasional. Beberapa negara anggota dan perusahaan sudah menyerukan untuk memikirkan kembali paket Fit for 55 di tengah melonjaknya harga energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa Krisis Energi Perang Rusia Ukraina
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top