Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rusia Serang Ukraina, Yuan China Masih Kokoh

Yuan masih berada di dekat level tertinggi selama empat tahun setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan demiliterisasi Ukraina.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 24 Februari 2022  |  15:07 WIB
Yuan - Bloomberg
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang China yuan tetap kokoh di tengah serangan Rusia ke Ukraina yang diikuti dengan pasar saham global yang anjlok.

Yuan masih berada di dekat level tertinggi selama empat tahun setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan demiliterisasi Ukraina.

"Yuan diperdagangkan seperti mata uang safe haven selama krisis Ukraina. Prospek pelonggaran lebih lanjut seharusnya bisa diikuti dengan pemulihan pertumbuhan," ujar Kepala Riset Asia Australia & New Zealand Banking Group di Singapura Khoon Goh dilansir Bloomberg, Kamis (24/2/2022).

Ditambah lagi, saham China juga masih andal meskipun ada banyak aksi jual ekuitas Amerika Serikat.

Korelasi yuan untuk volatilitas global telah menurun dalam level terendah 3 tahun pada pekan ini, yang mendasari status safe haven karena upaya para pembuat kebijakan China untuk melonggarkan guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Surat utang negara China berhasil arus dana masuk sebesar 575,6 miliar yuan (US$91 miliar) pada tahun lalu. Bahkan surat utang ini disebut sebagai alternatif potensial untuk Treasuries.

Sebuah laporan berita lokal China pada Kamis mengutip seorang analis yang mengatakan bahwa volatilitas yang rendah dan daya beli yang stabil telah membuat aset yuan lebih menarik.

Adapun yuan diperkirakan akan reli ke level 6,3 yuan per dolar AS lebih karena sentimen risk off atau ketika investor mengindari risiko.

Sementara itu, yuan turun ketika berita serangan Rusia ke Ukraina pecah. Namun, hal ini tidak terlalu santer diberitakan. Yuan turun 0,1 persen menjadi 6,3185 per dolar AS pada 14.57 waktu Beijing.

Pelacak Bloomberg CFETS RMB Index yang mengukur bagaimana performa mata uang terhadap 24 mata uang mitra dagang naik 0,6 persen menjadi 104,21, yang tertinggi dari data yang dikumpulkan Bloomberg sejak 2007.

"Perusahaan dalam negeri memiliki kepemilikan besar terhadap mata uang asing karena surplus perdagangan dalam beberapa tahun terakhir. Itu membuatnya agak kebal terhadap risiko yang tidak diiinginkan," ujar Ahli Strategi Pasar Senior Informa Global Markets Jonathan Cavenagh.

Kendati demikian, perbedaan jauh dari langkah Bank Rakyat China dengan bank sentral lainnya yang cenderung akan menaikkan suku bunga akan menekan mata uang.

“Investor mungkin berpikir bahwa aset yuan termasuk obligasi pemerintah China dapat memiliki beberapa fungsi safe haven. Meskipun, tentu saja anda tidak dapat membandingkannya dengan dolar AS," ujar profesor ekonomi Universitas Peking dan mantan anggota komite kebijakan moneter PBOC Huang Yiping,

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china rusia yuan Krisis Ukraina
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top