Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Polemik Tarif KRL Naik, Kemenhub: Kami Tidak Tutup Telinga

Kemenhub tidak menutup telinga atas masukan terkait dengan polemik wacana tarif KRL naik menjadi Rp5.000.
Sejumlah penumpang KRL Commuter Line tiba di Stasiun Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Senin (3/1/2022). ANTARA FOTO/Fauzan
Sejumlah penumpang KRL Commuter Line tiba di Stasiun Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Senin (3/1/2022). ANTARA FOTO/Fauzan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan tidak menutup telinga terkait wacana kenaikan tarif kereta rel listrik (KRL) yang kini menjadi polemik di masyarakat.

Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati mengaku sebagai pemerintah dan regulator, pihaknya senantiasa mendengar semua masukan dan keluhan dari masyarakat selaku pengguna jasa terutama di masa pandemi Covid-19.

Pasalnya, tidak sedikit dari pengguna KRL mengeluhkan rencana kenaikan tarif tersebut. Apalagi, saat ini banyak orang yang mengalami masa sulit karena pandemi mulai dari pemotongan gaji hingga kehilangan pekerjaan.

"Jadi artinya kami sebenarnya dari pemerintah dengan tanggapan dari masyarakat seperti itu tentu telinga kita tidak tertutup. Kita pasti mendengarkan tapi kita juga mohon masyarakat juga memahami mengapa ada rencana ini," ujar Adita saat live Instagram bersama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau KAI Commuter, Kamis (20/1/2022).

Dia menuturkan, adanya kenaikan tarif ini juga bertujuan demi kebaikan masyarakat sebagai pengguna. Sebab, pemerintah juga butuh dana untuk tetap bisa memberikan pelayanan yang baik, tapi dengan tetap mempertimbangkan kemampuan ekonomi dan keterjangkauan masyarakat dalam siatuasi saat ini.

Adita bahkan menyebut bahwa saat ini banyak sekali layanan yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, baik itu yang berupa sarana fisik maupun program dan layanan lain.

"Inovasi-inovasi yang memudahkan ini misalnya digitalisasi, integrasi sistem, itu kan juga sebenarnya bagian dari [tarif yang dibayarkan] itu," sebutnya.

Lebih lanjut dia menekankan, besaran kenaikan tarif yang diusulkan dari sebelumnya Rp3.000 menjadi Rp5.000 untuk 25 km pertama juga bukan muncul tiba-tiba melainkan hasil survei, kalkulasi, hingga konsultasi dengan para pakar terkait.

"Jadi sekarang saya tegaskan belum ada kenaikan tetapi wacananya ada dan kalau nanti akan dinaikkan sekalian kita sosialisasikan kira-kira nanti angkanya ada di 25 km pertama sekarang kan pegguna bayar Rp3.000 nantinya yang kita usulkan adalah naik menjadi Rp5.000," tutup Adita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Rahmi Yati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper