Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Holding BUMN Pariwisata Dibentuk, Ini Kekhawatiran Pengusaha

Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) khawatir pembentukan Holding BUMN Pariwisata & Pendukung bakal memonopoli rantai bisnis industri pariwisata. 
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 14 Januari 2022  |  21:13 WIB
Tamu W Bali Seminyak juga dapat bersantai di akhir pekan dengan menikmati pemandangan sunset dengan alunan musik yang groovy dan asyik dari Andy Chunes (PNNY / NL), Marc Roberts (Pantai People) dan Damian Saint pada 27 Maret 2021.  - W Bali
Tamu W Bali Seminyak juga dapat bersantai di akhir pekan dengan menikmati pemandangan sunset dengan alunan musik yang groovy dan asyik dari Andy Chunes (PNNY / NL), Marc Roberts (Pantai People) dan Damian Saint pada 27 Maret 2021. - W Bali

Bisnis.com, JAKARTA — Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) khawatir peleburan sejumlah perusahaan pelat merah ke dalam Holding BUMN Pariwisata & Pendukung atau PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) bakal memonopoli rantai bisnis industri pariwisata. 

Wakil Ketua Umum Asita Budijanto mengatakan monopoli bisnis lewat integrasi aset Holding BUMN Pariwisata & Pendukung itu bakal memangkas peluang pendapatan dari aktor industri yang relatif kecil. Budijanto meminta pemerintah untuk menyiapkan skema agar swasta turut dilibatkan dalam rantai bisnis Holding BUMN Pariwisata itu. 

“Jangan sampai kemudian holding pariwisata itu justru mematikan bisnis-bisnis pariwisata yang kecil jadi terjadi monopoli, ini yang harus kita antisipasi yang harus kita siapkan dari awal,” kata Budijanto melalui sambungan telepon, Jumat (14/1/2022). 

Ihwal pelibatan swasta itu, Budijanto mengatakan Holding BUMN Pariwisata itu dapat berperan sebagai distributor peluang usaha lewat integrasi sistem yang dimilikinya. Dia mengatakan pengusaha swasta dapat mengerjakan setiap peluang usaha yang didistribusikan oleh gabungan perusahaan pelat merah tersebut. 

“Mereka holding cukup sebagai distributor, mereka tidak deal sendiri kalau ada kegiatan tidak jualan sendiri, yang jualan tetap industri pariwisata yang kecil menengah ini itu yang saya harapkan,” tuturnya. 

Nantinya, dia menambahkan bentuk kerja sama itu dapat terjalin lewat sistem komisi atau bagi hasil yang mendukung daya saing pariwisata dalam negeri. Dengan demikian, industri pariwisata dalam negeri dapat pulih seiring dengan terkendalinya pandemi Covid-19 belakangan ini. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Holding BUMN Pariwisata & Pendukung atau PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) menargetkan untuk mendongkrak kontribusi sektor pariwisata terhadap raihan pendapatan domestik bruto atau PDB mencapai 4,5 persen pada tahun ini.

Rencanannya, Holding BUMN Pariwisata itu bakal mulai mengintegrasikan sejumlah ekosistem pariwisata yang selama ini tidak saling terhubung.  

Holding ini berisi antara lain PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Taman Wisata Candi Borobudur , Prambanan dan Ratu Boko (Persero) (TWC), dan PT Sarinah (Persero). Holding itu juga mengelola sejumlah hotel dengan menyatukan 122 hotel yang berada di bawah Kementerian BUMN

Direktur Marketing PT Aviasi Pariwisata Indonesia Maya Watono mengatakan integrasi ekosistem itu dilakukan untuk memaksimalkan potensi aset di sektor pariwisata yang selama ini belum pernah dioptimalkan. Menurut Maya, peleburan sejumlah perusahaan pelat merah itu bakal membentuk holding pariwisata terbesar di kawasan. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata asita holding bumn
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top