Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Krisis Energi Eropa Kian Parah di Musim Dingin

Dunia menghadapi kelangkaan energi seiring dengan pemulihan ekonomi dari pandemi yang akan meningkatkan permintaan.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 09 Desember 2021  |  19:03 WIB
Beberapa produsen minyak terbesar di Eropa saat ini tengah fokus untuk meningkatkan bauran energi hijau dalam portofolio bisnis mereka.  - Vattenfall
Beberapa produsen minyak terbesar di Eropa saat ini tengah fokus untuk meningkatkan bauran energi hijau dalam portofolio bisnis mereka. - Vattenfall

Bisnis.com, JAKARTA - Krisis energi di Eropa belum akan membaik lantaran harga listrik naik ke rekor baru, memicu inflasi dan menaikkan tagihan listrik pada jutaan rumah tangga dan industri di seluruh benua.

Dilansir Bloomberg pada Kamis (9/12/2021), harga listrik untuk pengiriman tahun depan melonjak lebih dari 15 persen di Jerman dan hampir 14 persen di Prancis pada penutupan pasar pada Rabu.

Cuaca yang rendah di musim dingin telah memaksa utilitas pembangkit listrik di Eropa untuk membakar lebih banyak gas, batu bara, dan bahkan minyak untuk memastikan lampu tetap menyala.

Lonjakan harga pada bulan ini akhirnya memengaruhi kontrak berjangka untuk tahun-tahun berikutnya, sebuah tanda bahwa krisis bisa bertahan lebih lama dari yang diperkirakan banyak orang.

"Musim dingin masih panjang. [Awal musim yang dingin] akan membuat harga energi tinggi sepanjang musim seiring dengan pilihan untuk menggunakan gas atau tenaga air yang tersimpan di kemudian hari tidak ada," ujar Kepala analis Jamtkraft AB.

Dunia menghadapi kelangkaan energi seiring dengan pemulihan ekonomi dari pandemi yang akan meningkatkan permintaan. Pada saat yang sama, suplai juga belum dapat memenuhi lantaran investasi yang rendah di sektor bahan bakar fosil.

Di sisi lain, sumber energi terbarukan Eropa juga menderita dengan rendahnya kecepatan angin yang membuat hasil produksi listrik minim pada tahun ini.

Harga patokan energi Eropa di Jerman untuk tahun depan mencapai 192 euro (US$218) per megawatt-jam, sementara kontrak setara Prancis melonjak setinggi 222,75 euro sebelum ditutup pada 222,50 euro.

Oleh karena penggunaan bahan bakar fosil yang tinggi menyebabkan harga karbon melonjak ke rekor 90,75 euro per metrik ton, dengan pedagang opsi bertaruh harga akan mencapai 100 euro sebelum akhir tahun. Sementara itu, harga karbon ditutup pada 88,88 euro.

Dalam kacamata konsumen, harga gas dan listrik yang semakin tinggi langsung berimbas pada kenaikan harga pangan dan transportasi.

Deputi Gubernur Bank of England untuk Kebijakan Moneter Ben Broadbent mengatakan pada pekan ini bahwa inflasi Inggris akan melampaui 5 persen pada awal tahun depan.

Kenaikan harga terjadi mengikuti regulator energi Kantor Pasar Gas dan Listrik (Ofgem) mengizinkan pembangkit listrik kembali meningkatkan harga untuk konsumen pada April.

Eropa kini bergantung pada energi terbarukan seperti tenaga angin dan matahari setelah berambisi untuk beralih dari bahan bakar fosil dalam upaya untuk mengurangi emisi dan membatasi penggunaan tenaga nuklirnya.

Trader komoditas Trafigura Group mengatakan penghentian pembangkit listrik konvensional yang dapat dihidupkan dan dimatikan berdampak pada kenaikan harga produksi energi terbarukan.

"Peralihan struktural dari batu bara dan nuklir ke angin dan matahari juga menyebabkan ketegangan parah pada sistem listrik," tulisnya dalam laporan tahunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

musim dingin pandemi corona
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top