Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investasi Daur Ulang Semarak, Topang Kinerja Industri Kemasan

Sejumlah perusahaan fast moving consumer good (FMCG) mulai merogoh investasi besar untuk pengemasan, didorong naiknya permintaan dan tuntutan penggunaan bahan daur ulang.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 08 Desember 2021  |  22:36 WIB
Investasi Daur Ulang Semarak, Topang Kinerja Industri Kemasan
Pekerja mengemas biji plastik usai dijemur di salah satu industri pengolahan limbah plastik di Jakarta. - Bisnis/Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja industri kemasan diproyeksi belum akan mencatatkan pertumbuhan optimal pada tahun ini. Namun demikian, investasi di pada sektor daur ulang kemasan plastik makin semarak dan diperkirakan dapat menopang kinerja industri pada tahun depan.

Direktur Eksekutif Federasi Kemasan Indonesia Henky Wibawa mengatakan sejumlah perusahaan fast moving consumer good (FMCG) mulai merogoh investasi besar untuk pengemasan, didorong naiknya permintaan dan tuntutan penggunaan bahan daur ulang.

"Investasi cukup menggembirakan. Investasi mesin untuk menambah kapasitas di bidang packaging lumayan besar, menambah teknologi baru, karena permintaan meningkat," kata Henky saat dihubungi Bisnis, Rabu (8/12/2021).

Tahun ini, Henky memproyeksikan pertumbuhan industri kemasan hanya di kisaran 3–4 persen, di bawah angka pertumbuhan organik 6 persen. Kendalanya, selain permintaan yang sempat turun karena pembatasan aktivitas masyarakat, juga harga bahan baku yang melonjak tajam.

Kedua faktor tersebut menyebabkan pertumbuhan industri tidak bisa optimal pada tahun ini. Sementara itu, tingginya harga bahan baku diperkirakan masih akan tetap berlanjut pada tahun depan dan menjadi tekanan bagi pelaku usaha mengingat 50 persen material kemasan masih didatangkan dari impor. Kendala logistik berupa kelangkaan kontainer dan tingginya ongkos pengapalan ikut mengerek harga bahan baku kemasan.

Meski demikian, Henky optimistis peningkatan kapasitas produksi dengan adanya penambahan investasi, bakal mengerek kinerja industri hingga 6 persen pada 2022.

"Saya tetap di angka konservatif 5–6 persen [untuk pertumbuhan tahun depan], itu yang kami harapkan," lanjutnya.

Selain tantangan bahan baku, industri kemasan juga cenderung sulit berekspansi ke pasar di luar Jawa karena kendala ketersediaan infrastruktur. Menurut Henky, pasar di luar Jawa dan Sumatera menyimpan potensi besar untuk dijajaki.

Dengan tren belanja melalui platform dagang elektronik saat ini, penetrasi ke pasar di luar Jawa diharapkan dapat meningkat.

Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Indonesia (Adupi) Christine Halim menambahkan, rencana investasi untuk menambah kapasitas produksi daur ulang antara lain oleh Veolia Water Technologies Indonesia, Dynapack, Coca-Cola, dan Mayora Indah Group.

"Terutama [fasilitas daur ulang] PET untuk food contact," kata Christine.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur plastik daur ulang
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top