Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonom Bahana Ungkap Dua Kunci Hadapi Omicron

Untuk mengantisipasi ancaman Omicron, booster vaksin dan kontrol perbatasan yang lebih ketat perlu diterapkan.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 03 Desember 2021  |  10:34 WIB
Siswa mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas di SMAN 1 Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (6/9/2021). Protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 dijalankan selama pembelajaran tatap muka secara terbatas. (ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi
Siswa mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas di SMAN 1 Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (6/9/2021). Protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 dijalankan selama pembelajaran tatap muka secara terbatas. (ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia dinilai lebih siap dalam menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh varian Covid-19 Omicron, sejalan dengan reformasi layanan kesehatan yang terus berlangsung.

Kendati demikian, ada dua kunci utama yang harus dijalankan pemerintah untuk hadapi Omicron, yakni booster vaksin dan kontrol perbatasan.

“Reformasi layanan kesehatan yang sedang berlangsung akan membuka jalan bagi pemulihan ekonomi yang lebih kuat di masa depan, karena Indonesia sejauh ini berhasil mengendalikan kasus Covid-19 di tengah wabah besar di negara lain,” kata Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro, Jumat (3/12/2021).

Dia menyampaikan, indonesia berhasil mengendalikan kasus Covid-19 di tengah gelombang baru di negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand juga di negara maju, seperti Jerman, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sempat memberikan pernyataan bahwa hal ini terjadi karena tingkat infeksi puncak awal Indonesia sudah terjadi pada Juni-Juli, sementara negara-negara lain baru bergulat dengan gelombang Delta saat ini.

Kemudian, Indonesia masih memiliki tingkat kekebalan yang tinggi dengan vaksinasi mencapai puncaknya pada 2 juta dosis per hari pada September-Oktober, sementara di banyak negara maju, vaksinasi mencapai puncaknya pada Maret-April.

Menurut Satria, untuk mengantisipasi ancaman Omicron, booster vaksin dan kontrol perbatasan yang lebih ketat perlu diterapkan.

Pemerintah pun berencana untuk meningkatkan pengetatan di kawasan perbatasan dan memperketat mobilitas masyarakat pada akhir tahun.

Ketika terjadi gelombang 2 Covid-19, teridentifikasi bahwa pelabuhan laut merupakan titik kebocoran yang memicu wabah varian Delta pada Juli-Agustus. Pada Oktober, sebanyak 39.786 orang asing masuk ke Indonesia melalui pelabuhan laut, dibandingkan dengan 15.722 melalui udara, menyiratkan risiko yang lebih besar.

Satria menambahkan, reformasi layanan kesehatan akan menjadi pembahasan yang didorong dalam Presidensi G20 Indonesia.

Dia menilai, untuk keluar dari pandemi Covid-19, reformasi di sektor kesehatan harus dilakukan, sama seperti saat krisis keuangan Asia pada 1997-1998, di mana Indonesia keluar dari krisis dengan melakukan reformasi di sektor keuangan.

Secara global, Presiden Joko Widodo akan mengusulkan rencana untuk merombak sistem kesehatan global di G20, di mana Indonesia akan menjadi presiden pada tahun 2022.

Inisiatifnya di antaranya pembentukan organisasi global yang bertujuan untuk memperluas akses pendanaan dan produk kesehatan ke negara-negara berkembang dan integrasi basis data pengujian dan vaksinasi Covid-19.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan sri mulyani Covid-19
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top