Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekuitas Negatif hingga Rp40 Triliun, Garuda Pecahkan Rekor Jiwasraya!

Saat ini maskapai pelat merah tersebut memiliki aset senilai US$6,9 miliar dengan liabilitas senilai US$9,8 miliar.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 09 November 2021  |  16:20 WIB
Ekuitas Negatif hingga Rp40 Triliun, Garuda Pecahkan Rekor Jiwasraya!
Garuda Indonesia - istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengeklaim buruknya neraca keuangan PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) hingga ekuitas negatif sebesar Rp40 triliun telah melebihi yang dialami oleh perusahaan BUMN lainnya yakni Jiwasraya.

Wakil Menteri BUMN II Kartiko Wirjoatmodjo menjelaskan saat ini maskapai pelat merah tersebut memiliki aset senilai US$6,9 miliar dengan liabilitas senilai US$9,8 miliar.

Sementara hutang tercatat emiten berkode saham GIAA tersebut mencapai US$7 miliar, belum termasuk hutang yang tak tercatat ke lessor senilai US$2 miliar. Dengan demikian total hutang GIAA mencapai US$9 miliar 

Dari komposisi utang yang terbesar adalah kepada lessor senilai US$6,3 miliar yang merupakan komponen jangka panjang dan yang tak terbayar dalam jangka pendek senilai US$2 miliar. Dengan kondisi tersebut, Tiko menegaskan maskapai dengan jenis layanan penuh tersebut mengalami kondisi ekuitas negatif.

Kondisi pandemi pun memperburuk kondisi GIAA dengan tambahan utang mencapai Rp1,5 triliun – Rp2 triliun setiap bulannya. 

“Neraca Garuda saat ini kalau yang belum tahun per September 2021 mengalami ekuitas negatif hingga US$2,8 miliar atau setara dengan Rp40 triliun.Jadi ini rekor kalau  dulu rekornya dipegang Jiwasraya kini dipegang Garuda,” ujarnya dalam rapat bersama dengan komisi VI DPR/RI, Selasa (9/11/2021).

Satu hal lainnya yang memberatkan neraca keuangan GIAA adalah dengan adanya pencatatan akuntansi PSAK 73. Pencatatan yang menerapkan PSAK 73 membuat operating list Garuda yang semestinya dicatat sebagai kewajiban jangka panjang harus dicatat sebagai kewajiban saat ini. Tiko mengakui ini yang menghantam secara langsung neraca keuangan Garuda.

“Dalam kondisi [Garuda] saat ini, kalau istilah perbankan sudah technically bankrupt tapi belum legally. Ini yang sedang kami berusaha keluar dari situasi ini. Karena kewajiban Garuda sudah tak dibayar bahkan gaji pun sudah sebagian ditahan. Termasuk ke global sukuk dan sebagainya,” tekannya.

Restrukturisasi Garuda pun menjadi bergantung kepada lessor karena mayoritas atau sebesar 65 persen utang Garuda ada di tangan lessor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN Garuda Indonesia bangkrut
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top