Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Tekstil Diproyeksi Tumbuh 10 Persen Tahun Depan

Pada kuartal IV/2021 pasar domestik diprediksi tumbuh pesat karena tersendatnya impor dari China yang tengah mengalami krisis energi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 09 November 2021  |  15:46 WIB
Pedagang menata kain tekstil dagangannya di Cipadu, Kota Tangerang, Banten, Kamis (16/4 - 2020). ANTARA.
Pedagang menata kain tekstil dagangannya di Cipadu, Kota Tangerang, Banten, Kamis (16/4 - 2020). ANTARA.

Bisnis.com, JAKARTA – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) diproyeksikan mencapai pertumbuhan di atas 10 persen tahun depan. Hal itu didorong perbaikan utilisasi kapasitas produksi dan permintaan pasar dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan tahun ini pihaknya menargetkan pertumbuhan 3 persen yang ditopang kinerja positif pada kuartal terakhir 2021.

"Saya rasa bisa positif tahun ini di atas 3 persen. Kalau kondisinya bisa seperti ini terus, tahun depan pertumbuhan bisa di atas 10 persen seharusnya," kata Redma saat dihubungi, Selasa (9/11/2021).

Dia melanjutkan, pada kuartal IV/2021 pasar domestik akan tumbuh pesat karena tersendatnya impor dari China yang tengah mengalami krisis energi. Selain itu, pasokan dari negara-negara kompetitor lain juga masih dibayang-bayangi kelangkaan kontainer dan tingginya ongkos pengapalan.

Redma menggarisbawahi, industri tekstil dalam negeri dapat terus mempertahankan kinerjanya jika pemerintah mengendalikan impor. Menurutnya, perbaikan kinerja yang terjadi saat ini cenderung lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal.

Ke depan, jika kondisi krisis energi China dan kelangkaan kontainer berlalu, pemerintah memiliki pekerjaan rumah untuk menahan impor barang tekstil. "Asal impornya dijaga [bisa terus tumbuh]. Ini momentumnya sudah bagus, karena impornya susah masuk. Jangan sampai dibuka lagi," lanjutnya.

Redma juga mengeluhkan ada pandangan dari pemerintah bahwa jika impor dikendalikan, maka industri dalam negeri tak mampu memenuhi permintaan dan akan terjadi kekosongan barang. Kekhawatiran itu justru tak terbukti saat ini ketika barang impor tersendat.

Menurut Redma, justru yang terjadi adalah sebaliknya, karena pasar domestik yang terbuka, maka investasi naik dan penyerapan tenaga kerja juga ikut terkerek.

"Buktinya sekarang, begitu market-nya susah impor, kami [pelaku lokal] bisa isi. Investasi naik, PMI [purchasing managers' index manufaktur] juga naik," katanya.

Menurut catatan Kementerian Perindustrian, rata-rata utilisasi industri tekstil sampai dengan September 2021 berada pada 72,31 persen. Sedangkan industri pakaian jadi sebesar 84,83 persen, dan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sudah mencapai 80,18 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor china tekstil industri tpt
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top