Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor CPO RI ke Turki Loyo, Gapki Punya Permintaan

Menteri Perdagangan telah menyatakan komitmennya untuk mengambil kembali pasar ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Turki dari Malaysia. 
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 07 November 2021  |  18:49 WIB
Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, di Petajen, Batanghari, Jambi, Jumat (11/12/2020). Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memperkirakan nilai ekspor kelapa sawit nasional tahun 2020 yang berada di tengah situasi pandemi Covid-19 tidak mengalami perbedaan signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 20,5 miliar dolar AS atau dengan volume 29,11 juta ton. ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan
Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, di Petajen, Batanghari, Jambi, Jumat (11/12/2020). Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memperkirakan nilai ekspor kelapa sawit nasional tahun 2020 yang berada di tengah situasi pandemi Covid-19 tidak mengalami perbedaan signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 20,5 miliar dolar AS atau dengan volume 29,11 juta ton. ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) meminta pemerintah untuk mempercepat perundingan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA) tahun ini. Permintaan itu menyusul anjloknya kinerja ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sekitar 83,3 persen selama 10 tahun terakhir. 

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono menuturkan turunnya kinerja ekspor CPO dalam negeri lantaran Malaysia telah memiliki perjanjian dagang bebas atau free trade agreement (FTA) dengan Turki. konsekuensinya, bea masuk CPO asal Negeri Jiran itu turun dari 31 persen menjadi 20 persen. 

Padahal, kata Joko, volume ekspor CPO dalam negeri ke Turki sempat mencapai rata-rata sebanyak 600 ribu ton setiap tahunnya sebelum 2012. Hanya saja, kinerja ekspor CPO itu mengalami penurunan drastis selama 10 tahun terakhir menjadi sekitar 100 ribu ton.

“Karena tarif yang diberikan ke Malaysia jauh lebih kompetitif dibanding tarif Indonesia karena belum memiliki FTA, akhirnya Malaysia masuk dengan cepat dan mengambil pasar Indonesia di Turki dari tahun 2012,” kata Joko melalui sambungan telepon, Minggu (7/11/2021). 

Ihwal persoalan itu, Joko menuturkan, dirinya sempat bertemu dengan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pekan lalu. Dalam pertemuan itu, Lutfi disebutkan berkomitmen untuk mengambil kembali pasar ekspor CPO di Turki dari Malaysia. 

“Intinya perlu diraih kembali karena dulu ekspor sawit ke Turki itu sebenarnya Indonesia cukup besar,” jelasnya. 

Dengan demikian, dia meminta pemerintah untuk mempercepat perundingan IT CEPA menyusul rencana kunjungan Presiden Turki  Recep Tayyip Erdogan ke Tanah Air pada awal tahun depan. Kunjungan itu disinyalir menjadi pembahasan akhir dari perundingan perdagangan yang sudah berjalan sebanyak empat putaran. 

“Perlu ada perjanjian perdagangan sehingga nanti ekspor sawit itu bisa juga mendapatkan penurunan tarif agar bisa kompetitif kembali untuk merebut pasar Turki,” ujarnya. 

Pemerintah tengah mempercepat perundingan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA) untuk meningkatkan potensi nilai perdagangan kedua negara. Di sisi lain, IT-CEPA memiliki nilai strategis bagi Indonesia untuk menjadikan Turki sebagai hub ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) serta produk turunannya. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo kementerian perdagangan gapki minyak sawit ekspor cpo harga cpo
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top